Ditulis oleh :
Kathrin Schãrer
Adaptasi dari Bernard Friot 2008
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histoires
Penerbit bayard jeunesse
Trianasari
Untuk pertama kalinya seekor tikus kecil yang tinggal di kota pergi mengunjungi kawannya seekor tikus sawah di desa. Sesampainya disana, tikus sawah mengajak tikus kota berjalan – jalan ke peternakan. Mereka mengunjungi kandang sapi. Uups ! harus berhati – hati. Kemudian menuju kandang babi. Uups! Bau sekali ! mereka harus menutup hidung. Lalu melewati pekarangan dan bertemulah mereka dengan beberapa ekor ayam. ” Tolooong... tolooongg!! Monster itu akan memakan ku!”, teriak tikus kota sambil berlari. Terakhir, mereka mengunjungi ladang gandum. Aww...aww...aww ! kaki tikus kota tertusuk duri.Ketika malam telah tiba, mereka berdua berdiri di luar sambil menikmati malam penuh dengan bintang. Si tikus kota sangat takjub dibuatnya. Setelah itu, tikus sawah yang punya persediaan makanan yang banyak mengajak tikus kecil untuk makan bersama. Tikus sawah mengumpulkan banyak makanan selama musim panas untuk persediaan selama musim dingin. Dengan ramah, tikus sawah mempersilakan tikus kecil mencicipi biji kenari dan biji gandum.
Keesokan harinya, mereka bangun pagi sekali untuk
menikmati matahari terbit. ” Indah sekali !”, kata tikus kecil penuh kekaguman.
” Di tempat ini, matahari seperti muncul dari
dalam bumi. Di kotaku, matahari terlihat di atas gedung – gedung tinggi. Ayo,
kuajak kau pergi mengunjungi kotaku!” . Sesampainya di kota, tikus kecil dengan
setia menunjukkan kepada kawannya dari desa semua yang menyenangkan di kota.
Mereka melihat kereta yang berjalan cepat, melaju cepat sekali. Luar biasa!
Tikus sawah sangat terkesan dengan semua yang ada di kota. Suara bising, asap
kendaraan dan semua orang yang lalu – lalang!. Dan itu, apa itu ? mengerikan, ada seekor anjing !. Tikus
sawah benar – benar merasa takut. Tapi
pemandangan kota yang penuh dengan
lampu – lampu membuat tikus sawah terkesima sampai melongo.
Tikus kecil tinggal di dekat sungai, di sebuah selokan.
Dia tinggal bersama teman – temannya yang berjumlah tiga puluh tiga ekor tikus,
jantan dan betina. Sepanjang malam, mereka bernyanyi dan berdansa. Mereka
berfoya – foya dan berpesta pora. Di pagi hari, tikus sawah terbangun karena
suara deru sebuah motor. Tikus – tikus kota menyebutnya sebagai traktor. ”
Cepat ! Bergegaslah ! ” kata tikus kota. ” Sebuah perahu telah tiba!”Sebuah kapal panjang kembali memperlihatkan sungai yang
terlena di dalam kabut. ” Indah sekali tempatmu ini... ” kata tikus sawah sambil menggigil. ” Tapi...
”. Kata – kata itu tidak dilanjutkan. Suasana lalu sepi. ” Tempatmu juga indah,
kawan. ” kata tikus kota sambil merangkul kawannya. ” Tapi...” kata – kata
itupun tidak dilanjutkan. Suasana kembali sepi. ” Lalu bagaimana ? ” tanya
tikus sawah. ” Aku tidak tahu.” kata tikus kota. ” Bagaimana kalau kita
menikmati pemandangan sungai itu bersama – sama ?”
Untuk pertama kalinya seekor tikus kecil yang tinggal di kota pergi mengunjungi kawannya seekor tikus sawah di desa. Sesampainya disana, tikus sawah mengajak tikus kota berjalan – jalan ke peternakan. Mereka mengunjungi kandang sapi. Uups ! harus berhati – hati. Kemudian menuju kandang babi. Uups! Bau sekali ! mereka harus menutup hidung. Lalu melewati pekarangan dan bertemulah mereka dengan beberapa ekor ayam. ” Tolooong... tolooongg!! Monster itu akan memakan ku!”, teriak tikus kota sambil berlari. Terakhir, mereka mengunjungi ladang gandum. Aww...aww...aww ! kaki tikus kota tertusuk duri.Ketika malam telah tiba, mereka berdua berdiri di luar sambil menikmati malam penuh dengan bintang. Si tikus kota sangat takjub dibuatnya. Setelah itu, tikus sawah yang punya persediaan makanan yang banyak mengajak tikus kecil untuk makan bersama. Tikus sawah mengumpulkan banyak makanan selama musim panas untuk persediaan selama musim dingin. Dengan ramah, tikus sawah mempersilakan tikus kecil mencicipi biji kenari dan biji gandum.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar