Judul asli : Le Lion et la Guenon
Ditulis oleh : Claire Barré
Diterbitkan oleh bayard jeunesse
Diterjemahkan bebas dari seri
les belles histoires
Oleh trianasari
Suatu hari di sebuah padang rumput di Afrika yang panas. Léonard seekor
singa yang tampan dan sombong sedang minum dengan tenang di sebuah mata air.
Tiba – tiba saja dia mangaum marah seperti seekor kucing yang sangat besar
ketika air menyembur ke mukanya. Ternyata ada sebuah batu besar yang di
lemparkan ke mata air itu. ” Siapa yang berani menciprati air ke mukaku ?” aum
Léonard dengan marah. Tak lama kemudian dia mendengar suara tawa terkikik
dibalik semak – semak. Benar, ternyata seekor binatang sedang menertawakan si
singa!
Masih marah dan dengan mulut ditarik
ke belakang, seolah Léonard telah siap untuk menggigit siapa yang berani mengejeknya.
Dia lalu melompat ke semak – semak dan mendarat... Ups! tepat di atas tubuh
seekor monyet betina!. Léonardtak pernah melihat seekor monyet betina yang
secantik monyet itu. Léonard merasa tertarik. Dengan terbata dia bertanya, ”
Sssi..siapa namamu?”. ” Lina” jawab monyet betina itu. Ternyata Lina juga
merasa tertarik dengan Léonard, dia telah jatuh cinta pada singa itu!
Kemudian pasangan binatang yang
sedang jatuh cinta ini pergi mengarungi padang rumput. Léonard ingin
mengenalkan Lina kepada keluarganya tapi ketika mereka telah tiba, mereka
diterima dengan marah oleh keluarga singa! ” Memalukan! Anakku dengan seekor
monyet ? kenapa tidak dengan hyena yang setidaknya sama dengan kita? ” aum ibu
Léonard dengan sangat marah. Semua singa yang ada disana tertawa mengejek. Ayah
Léonard menggeram, denag gaya bangsawan dia berkata, ” Kai semua yang ada disii
merasa malu. Léonard, bagi kami, kau bukan lagi seekor singa. Kau tak lebih
dari seekor monyet besar yang sedang jatuh cinta pada monyet betina!”
Ditolak dari keluarga singa, mereka
pun menuju ke hutan. Lina berpikir mungkin keluarganya akan menerima mereka. Tapi yang mereka terima ketika memasuki hutan adalah
lemparan buah kelapa. ” Apa kamu sudah gila, Lina ?” kata ayahnya dengan marah.
” Singa ini akan memakan kita, dia adalah pemakan daging!. Dia sangat berbahaya, instingnya akan lebih besar lagi! ”
Seekor kera kecil menggigil ketakutan di pelukan ibunya. Léonard dan Lina tak
tahu lagi apa yang harus mereka lakukan... Keluarga singa dan keluarga kera
telah menolak mereka. ” Jangan khawatir, Léonard! Kita saling menyukai. Itu
yang penting, bukan? ” kata monyet betina.
Mereka lalu mengungsi di sebuah
sudut hutan di batas antara daerah singa dan daerah kera. Tetapi malam itu,
badai yang mengerikan sedang terjadi. Garis – garis putih berkilat di langit.
Petir menyambar, membakar hutan. Léonard dan Lina melihat dari kejauhan singa –
singa yang berusaha melarikan diri tapi nyala api telah mengepung mereka!.
Masing – masing singa membawa seekor singa kecil di moncongnya sementara yang
lain menangis karena ditingggal di kepungan nyala api yang kian mendekat.
Léonard dan Lina saling menatap,
ketakutan. Tapi mereka harus berbuat sesuatu. Dibuangnya ketakuatan itu jauh –
jauh dan mereka pun lalu memutuskan sesuatu. Lina lau melompat ke punggung
Léonard sambil berteriak, ” Ayo, kita selamatkan mereka!” . Mereka berlari
menyebrangi nyala api. Lina menyambar bayi – bayi singa dan meletakkan mereka
di punggung Léonard. Api semakin mendekat, berbahaya. Tapi dengan gigih Léonard
melompat keluar dari kepungan api dan bayi – bayi singa itu pun dapat
diselamatkan.
Setelah malam itu, Lina pun
diijinkan untuk tinggal bersama keluarga singa. Tapi kebakaran hutan kemarin
membuat binatang lain lari ketakutan. Dengan begitu berkurang pula makanan bagi
para singa. Singa – singa itu pun cepat sekali menjadi lapar. Mereka lalu
melihat Lina sebagai makanan yang sangat lezat. Seekor singa betina berbicara,
” Kita lapar. Kenapa kita tidak mengenyangkan perut kita?. Monyet itu
tampaknya sebuah santapan yang istimewa!”. Léonard mengaum, ” Jangan mendekati
Lina atau kalian akan berurusan denganku! Aku akan mencarikan kalian makan, aku
berjanji. ” Lina lalu berkata pada Léonard, ” Aku punya ide.”. setelah
mengatakan itu, Lina lalu menjauh masuk menuju huta.
Tak lama kemudian Lina kembali
dengan membawa buah – buahan segar. Pisang, mangga, jambu biji dan leci. Singa
– singa itu sedikit tersinggung. ” Apa itu? Buah – buahan? Kenapa tidak rumput
saja sekalian ? kami ini adalah pemakan daging. Kami makan zebra dan rusa! Lina
kau telah mengejek kami!” . Léonard yang juga heran dengan perbuatan Lina
kemudian bertanya, ” Lina untuk siapa buah – buahan itu? Benarkah itu yang kau
tawarkan pada kami? Buah – buahan?”. Dengan tersenyum Lina lalu menjawab, ”
Paling tidak cicipilah...”
Burung – burung pemakan bangkai pun
juga sangat keheranan melihat tingkah laku singa – singa yang memakan lahap buah
– buahan dan bukannya daging!. Anak – anak
singamemakan buah favorit mereka, pisang. Singa betina sangat menyukai air
kelapa. Lina juga telah menyiapkan salade mangga dan leci untuk Léonard. Ayah
Léonard, menjilati makanan yang ada di ibirnya dan berkata, ” Sungguh ! ini
lebih baik dari makanan apapun. Buah – buahan ini sangat lezat!” Dan singa –
singa itupun menjadi satu – satunya kelompok singa vegetarian.
Sejak saat itu, keluarga singa
pindah untuk menetap di dalam hutan. Mereka hidup di pohon buah – buahan
bersama dengan para kera dan ular boa. Mereka terkenal sebagai pemakan buah
nanas. Leonard dan Lina selalu saling mencintai, hidup dengan sanagt bahagia
dan memiliki banyak anak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar