My Playlist

Senin, 12 Maret 2012

Seekor singa dan monyet betina


Judul asli    : Le Lion et la Guenon
Ditulis oleh : Claire Barré
Diterbitkan oleh bayard jeunesse
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histoires
Oleh trianasari



Suatu hari di sebuah padang rumput di Afrika yang panas. Léonard seekor singa yang tampan dan sombong sedang minum dengan tenang di sebuah mata air. Tiba – tiba saja dia mangaum marah seperti seekor kucing yang sangat besar ketika air menyembur ke mukanya. Ternyata ada sebuah batu besar yang di lemparkan ke mata air itu. ” Siapa yang berani menciprati air ke mukaku ?” aum Léonard dengan marah. Tak lama kemudian dia mendengar suara tawa terkikik dibalik semak – semak. Benar, ternyata seekor binatang sedang menertawakan si singa!
            Masih marah dan dengan mulut ditarik ke belakang, seolah Léonard telah siap untuk menggigit siapa yang berani mengejeknya. Dia lalu melompat ke semak – semak dan mendarat... Ups! tepat di atas tubuh seekor monyet betina!. Léonardtak pernah melihat seekor monyet betina yang secantik monyet itu. Léonard merasa tertarik. Dengan terbata dia bertanya, ” Sssi..siapa namamu?”. ” Lina” jawab monyet betina itu. Ternyata Lina juga merasa tertarik dengan Léonard, dia telah jatuh cinta pada singa itu! 
            Kemudian pasangan binatang yang sedang jatuh cinta ini pergi mengarungi padang rumput. Léonard ingin mengenalkan Lina kepada keluarganya tapi ketika mereka telah tiba, mereka diterima dengan marah oleh keluarga singa! ” Memalukan! Anakku dengan seekor monyet ? kenapa tidak dengan hyena yang setidaknya sama dengan kita? ” aum ibu Léonard dengan sangat marah. Semua singa yang ada disana tertawa mengejek. Ayah Léonard menggeram, denag gaya bangsawan dia berkata, ” Kai semua yang ada disii merasa malu. Léonard, bagi kami, kau bukan lagi seekor singa. Kau tak lebih dari seekor monyet besar yang sedang jatuh cinta pada monyet betina!”
            Ditolak dari keluarga singa, mereka pun menuju ke hutan. Lina berpikir mungkin keluarganya akan menerima mereka. Tapi yang mereka terima ketika memasuki hutan adalah lemparan buah kelapa. ” Apa kamu sudah gila, Lina ?” kata ayahnya dengan marah. ” Singa ini akan memakan kita, dia adalah pemakan daging!. Dia sangat berbahaya, instingnya akan lebih besar lagi! ” Seekor kera kecil menggigil ketakutan di pelukan ibunya. Léonard dan Lina tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan... Keluarga singa dan keluarga kera telah menolak mereka. ” Jangan khawatir, Léonard! Kita saling menyukai. Itu yang penting, bukan? ” kata monyet betina.
            Mereka lalu mengungsi di sebuah sudut hutan di batas antara daerah singa dan daerah kera. Tetapi malam itu, badai yang mengerikan sedang terjadi. Garis – garis putih berkilat di langit. Petir menyambar, membakar hutan. Léonard dan Lina melihat dari kejauhan singa – singa yang berusaha melarikan diri tapi nyala api telah mengepung mereka!. Masing – masing singa membawa seekor singa kecil di moncongnya sementara yang lain menangis karena ditingggal di kepungan nyala api yang kian mendekat.
            Léonard dan Lina saling menatap, ketakutan. Tapi mereka harus berbuat sesuatu. Dibuangnya ketakuatan itu jauh – jauh dan mereka pun lalu memutuskan sesuatu. Lina lau melompat ke punggung Léonard sambil berteriak, ” Ayo, kita selamatkan mereka!” . Mereka berlari menyebrangi nyala api. Lina menyambar bayi – bayi singa dan meletakkan mereka di punggung Léonard. Api semakin mendekat, berbahaya. Tapi dengan gigih Léonard melompat keluar dari kepungan api dan bayi – bayi singa itu pun dapat diselamatkan.
            Setelah malam itu, Lina pun diijinkan untuk tinggal bersama keluarga singa. Tapi kebakaran hutan kemarin membuat binatang lain lari ketakutan. Dengan begitu berkurang pula makanan bagi para singa. Singa – singa itu pun cepat sekali menjadi lapar. Mereka lalu melihat Lina sebagai makanan yang sangat lezat. Seekor singa betina berbicara, ” Kita lapar. Kenapa kita tidak mengenyangkan perut kita?. Monyet itu tampaknya sebuah santapan yang istimewa!”. Léonard mengaum, ” Jangan mendekati Lina atau kalian akan berurusan denganku! Aku akan mencarikan kalian makan, aku berjanji. ” Lina lalu berkata pada Léonard, ” Aku punya ide.”. setelah mengatakan itu, Lina lalu menjauh masuk menuju huta.
            Tak lama kemudian Lina kembali dengan membawa buah – buahan segar. Pisang, mangga, jambu biji dan leci. Singa – singa itu sedikit tersinggung. ” Apa itu? Buah – buahan? Kenapa tidak rumput saja sekalian ? kami ini adalah pemakan daging. Kami makan zebra dan rusa! Lina kau telah mengejek kami!” . Léonard yang juga heran dengan perbuatan Lina kemudian bertanya, ” Lina untuk siapa buah – buahan itu? Benarkah itu yang kau tawarkan pada kami? Buah – buahan?”. Dengan tersenyum Lina lalu menjawab, ” Paling tidak cicipilah...”
            Burung – burung pemakan bangkai pun juga sangat keheranan melihat tingkah laku singa – singa yang memakan lahap buah – buahan dan bukannya daging!. Anak – anak singamemakan buah favorit mereka, pisang. Singa betina sangat menyukai air kelapa. Lina juga telah menyiapkan salade mangga dan leci untuk Léonard. Ayah Léonard, menjilati makanan yang ada di ibirnya dan berkata, ” Sungguh ! ini lebih baik dari makanan apapun. Buah – buahan ini sangat lezat!” Dan singa – singa itupun menjadi satu – satunya kelompok singa vegetarian.
            Sejak saat itu, keluarga singa pindah untuk menetap di dalam hutan. Mereka hidup di pohon buah – buahan bersama dengan para kera dan ular boa. Mereka terkenal sebagai pemakan buah nanas. Leonard dan Lina selalu saling mencintai, hidup dengan sanagt bahagia dan memiliki banyak anak.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar