Mari raih jemari tangan ku dan kuberikan
hatiku di hatimu
Agar kau rasa aman,
Tak takut pada esok
Ini
bermula dari pikiran, dia yang melahirkan ku boleh jadi dia ibu ku. Ibu
biologis ku. Tapi bukan ibu jiwa ku. Dan pikiran itu menjalar miring pada
bapak, kakak, adik dan bahkan simbah dan seperangkat keluarga besar lainnya.
Aku percaya, mereka menjadi seperti itu karena Tuhan sudah menetapkan. Dari
mereka aku ada. Aku sadar itu. Tapi secara biologis. Sementara aku, cara
berpikirku mengatakan aku ini jiwa. Dan tak kutemukan rasa itu pada mereka.
Bisa jadi mereka menganggap aku orang
aneh. Pemikiran, pendapat dan tingkah laku yang ku tunjukkan , terkadang ‘nyleneh’ dan dianggap tidak wajar oleh
mereka. Dari situlah mulai muncul keraguan dalam diriku. Benarkah aku ini
adalah bagian dari mereka? Sampai suatu ketika aku berhadapan dengan komik
detektif ( aku lupa namanya). Dari situ aku tahu istilah ‘ kembar secara
psikologis ‘. Jadi di dalam komik itu ada dua orang yang berbeda secara fisik,
tidak punya hubungan darah sama sekali tetapi secara psikologis mereka bisa
dikatakan kembar. Mereka saling mengerti satu sama lain. Memahami sikap, maksud
bicara dan pikiran satu sama lain. Aku mau menemukan itu. Menemukan ibu, bapak,
adik, kakak dan simbah psikologis ku.
Aku mulai pencarian itu. Seiring waktu, aku mulai terkesima dengan
pemikiran budha. Dari situ juga, mulai ku gerus perlahan – lahan cinta eros ku
dan kutingkatkan menjadi agape. Tidak mudah memang, sulit sekali. Bahkan aku
harus rela merasakan sakit hati yang teramat sangat. Aku yakin, cinta eros
tidak akan cukup menjadi wadah cinta yang ku miliki di kehidupan ini. Aku punya
energi cinta yang luarbiasa besar, kepedulian yang irasional pada berbagai
jenis makhluk. Contoh, aku bahkan tak merasa keberatan mendengarkan curhatan
nggak penting dalam pikiran rasionalku dari seorang cewek SMA yang jatuh cinta.
Aku sama sekali tidak keberatan bila harus duduk dan makan siang dengan seorang
pengemis di pinggiran pasar. Kalau kamu bertanya kenapa , aku juga tidak tahu.
Aku ingin menjadi sempurna. Melakukan
apapun dengan sempurna. Sampai suatu waktu, aku sadar aku telah melakukan
kecacatan dalam peranku di kehidupan ini. Peran sebagai kakak. Sebenarnya,
peran sebagai anak dan adik pun tidak begitu baik kujalankan, tetapi entah
kenapa kecacatan peran ku sebagai kakak sampai detik ini masih kusimpan seolah
tak pernah bisa terkubur begitu saja. Waktu itu aku berumur 9 tahun dan adik ku
sekitar 6 tahun. Bapak membelikan ku sepeda baru. Aku belum terampil
mengendarai sepeda waktu itu dan karena senangnya hampir setiap sore aku selalu
jalan-jalan dengan sepeda itu. Sore
hari, sewaktu bapak dan ibu tidak mengawasiku, aku mengeluarkan sepeda itu dengan
niat ingin jalan-jalan saja . Tapi tiba-tiba adik muncul di depan pintu. Dia
merengek – rengek ingin ikut. Bahkan dia berjanji, kalau jatuh nanti dia tidak
akan menangis. Aku iba dan akhirnya
mengajaknya turut serta. Dia senang sekali. Ku bonceng dia dibelakang, ku kayuh
sepeda dengan riang. Sampai akhirnya, aku lakukan gerakan manuver ke kiri dan
ke kanan layaknya pembalap sepeda. Sedetik itu aku lupa, aku membawa beban yang
masih rapuh, yang seharusnya ku jaga dengan hati - hati . Dia terjatuh. Dan yang lebih
memperparah rasa bersalah ku, ketika kulakukan gerakan manuver yang menurut ku
cukup lama ku lakukan, ternyata dia terjatuh tapi tangan mungil nya masih
bertahan dan menggengam standar sepeda di belakang. Jadi, dia terseret selama
ku lakukan gerakan itu. Kain di kedua lututnya sobek, mulutnya berdarah. Pun
ketika kami hampir sampai di rumah, dia masih kumarahi dan ku tagih janjinya
untuk tidak menangis meskipun jatuh .
Lima belas tahun berlalu. Kejadian itu
masih terbungkus apik di memoriku. Mimik tangis dan leleran darah di lutut dan
mulutnya membuat ku perih bahkan di detik ini. Setiap kali aku ingat kejadian
itu, ada rasa bersalah yang luarbiasa besar di ujung relung ku. Aku tidak
melakukannya dengan sempurna. Aku seharusnya tidak melakukan hal bodoh itu. Aku seolah pengecut yang tak berani
bertanggung jawab pada Bapak dan justru memarahi adik yang saat itu kesakitan
karena ulah ku.
Dan anehnya, efek dari kejadian itu
menjadikan ku peduli pada semua adik yang ada di dunia ini. Aku juga tidak
mengerti. Maka, ketika ada kakak yang tidak peduli dengan adiknya, aku akan ada
disana dan menggantikan perannya. Akan ku lakukan dengan sempurna, tak boleh
ada kecacatan lagi.
Dan pergilah aku berkelana dari kota
ku ke kota lain. Mencari adik –adik yang teraniaya dan tak dipedulikan kakaknya
. Sampai aku tiba di suatu tempat di pulau ini. Tentu saja, aku tidak sembarangan
memilih adik mana yang akan kupedulikan dan kulimpahi kasih sayang. Ada
beberapa kriteria yang kupegang sebagai persyaratan. Dan kriteria yang
benar-benar bernilai tujuh puluh persen adalah keadaan dimana dia benar-benar
butuh untuk dicintai dan dipedulikan. Aku selalu berfikir untuk melakukan semua
dengan sempurna. Baik masalah teknik atau pun landasannya sekali pun. Aku hanya
berargumen, dia yang ku pilih haruslah benar-benar dia yang membutuhkan. Untuk
apa kita memberi apel pada seorang penjual apel. Analogi ku berjalan seperti
itu.
Di pulau ini aku bertemu dengannya.
Gadis cilik belasan tahun. Pertama kali aku menemukannya ketika dia sedang
duduk dan makan es krim di kedai itu, sendirian. Namanya Indira, senyumnya
manis sekali. Dalam pandang pertama itu, aku jatuhkan pilihan padanya. Akan ku
jadikan dia adik ku. Sekali itu, aku
menggerus sendiri prinsipku, pada nilai tujuh puluh persen yang seharusnya amat
sangat ku pertimbangkan. Aroma kesunyiannya mengobrak – abrik jantung ku. Gadis
cilik rambut terurai, matanya sendu menerawang di kejauhan. Jantung ku tercabik
– cabik . Lihat matanya, sinaran redup di kedua kelopaknya. Paras nya indah
sekali . Aku berani bertaruh, tujuh puluh persen laki-laki akan jatuh cinta
pada gadis cilik itu. Satu langkah maju
ku ayunkan mendekati gadis itu. Bimbang,
bagaimana kalau dia menolak ?. Ahh, gadis seindah itu, mana mungkin dia
kekurangan kasih sayang.
Manusia, dalam hitungan detik, dalam
ukur satu langkah dapat merubah keputusannya begitu cepat. Keinginan menderu
dapat lantak begitu saja. Tidak konsisten, tapi aku lebih suka menyebutnya
sebagai tahu diri.
Aku balik kanan, melupakan gadis cilik
dengan mata sayu berparas indah itu.
Matanya, aroma kesunyiannya, satu diantara seribu bulir pasir di pantai.
Aku sadar, sensasi ini tidak akan mudah ku temukan diantara adik – adik lain di
dunia ini. Tapi aku berbalik juga, menjauh meninggalkannya. Pikiran praktis menggodaku
beberapa detik itu . Jika Tuhan
mengijinkan, kami pasti bisa berinteraksi . Jika tidak, maka aku ditakdirkan
untuk orang lain, adik – adik lain.
Singaraja. Kota ini memang tidak
begitu popular jika dibandingkan Denpasar tapi jauh sebelum ku tapakkan kaki di
pulau ini, Singaraja seolah memiliki nuansa magis tersendiri bagi jiwaku. Eiash tinggal di kota itu. Eiash, sahabat jiwa
ku. Gadis bali berambut panjang, sosoknya tinggi semampai dan raganya terbalut
daging padat berisi sehingga tubuhnya tampak proporsional dan sempurna sekali.
Aku paling suka dengan rambut panjang dan sekali lagi, matanya. Lembut sekali
dia berbicara, entahlah aku merasa berbeda. Ku bayangkan dia mendekatiku,
memarahi ku karena rokok yang kuhisap. Bayangkan, dia memarahiku hanya karena
rokok. Sepele sekali, katanya tidak baik perempuan merokok. Aku tentu tidak
menyerah begitu saja, Aku berargumen betapa enak nya merokok bagi diriku
sendiri. Kujelaskan dengan detil dan penuh semangat kala itu. Hehehe … tapi aku kalah. Aku menyerah
saat itu dan memutuskan untuk berhenti merokok ketika dijawabnya argumen ku
yang mengapi – api itu dengan senyum simpul dan sebaris kalimat dengan logat
bali nya yang kental, “ Rokok banyak racun nya. Banyak orang mati
karena rokok. Kalau kamu ndak ada, aku ndak bisa lagi marahin kamu. Kamu tau
kan, aku suka sekali marah – marah sama kamu ?!’ Seketika itu juga dia
nyengir dan tertawa, terlihat gigi serinya. Manis sekali. Dan aku tertawa saja,
lucu sekali jawab yang dikemukakannya.
Itu saja. Itu momen terakhir kami
bertemu sebelum akhirnya dia pergi. Pergi jauh sekali, jauh yang tak mungkin
bisa ku susul dengan rintangan jarak. Kami telah berbeda dimensi. Dia pergi
yang tak akan pernah bisa kembali. Aku cari kabar tentangnya, dia meninggal
mengidap radang paru-paru karena terlalu banyak menghisap asap rokok. Menurut
analisis laborat, dia perokok pasif. Paru-parunya terinfeksi. Sebentar aku
teringat, ayah dan saudara laki-lakinya adalah perokok berat. Eiash, kenapa kamu yang harus pergi ?
Dua bulan setelah itu kuputuskan perjanjianku
dengannya. Bodoh sekali menuruti orang yang sudah mati. Mulai kuhisap rokok
yang tersimpan lama di laci meja. Eiash,
kenapa kamu pergi ? Selanjutnya selalu begitu. Mengingatmu dan mempertimbangkan pada awal ketika jemari ini
menyentuh bungkusnya lalu mencabut satu batangnya. Ya atau tidak. Pada momen
ketika jemari memetik korek dan menyulutkannya di bibir batangnya. Kuhisap atau
tidak. Hingga rokok itu mulai kusesap dan asap mengepul perlahan keluar dari
bibir ku. Ku tunggu suara itu, tapi tak ku dengar. Maka aku marah pada diriku
sendiri dan menghabiskannya.
Tuhan, siapa
sebenarnya kucari ?
‘ndis
1
januari ‘10


Tidak ada komentar:
Posting Komentar