My Playlist

Senin, 12 Maret 2012

Langitbirujogjabali

 Mari genggam tangan ku dan jangan menangis
Mari raih jemari tangan ku dan kuberikan hatiku di hatimu
Agar kau rasa aman,
Tak takut pada esok

                            
Ini bermula dari pikiran, dia yang melahirkan ku boleh jadi dia ibu ku. Ibu biologis ku. Tapi bukan ibu jiwa ku. Dan pikiran itu menjalar miring pada bapak, kakak, adik dan bahkan simbah dan seperangkat keluarga besar lainnya. Aku percaya, mereka menjadi seperti itu karena Tuhan sudah menetapkan. Dari mereka aku ada. Aku sadar itu. Tapi secara biologis. Sementara aku, cara berpikirku mengatakan aku ini jiwa. Dan tak kutemukan rasa itu pada mereka.
          Bisa jadi mereka menganggap aku orang aneh. Pemikiran, pendapat dan tingkah laku yang ku tunjukkan , terkadang ‘nyleneh’ dan dianggap tidak wajar oleh mereka. Dari situlah mulai muncul keraguan dalam diriku. Benarkah aku ini adalah bagian dari mereka? Sampai suatu ketika aku berhadapan dengan komik detektif ( aku lupa namanya). Dari situ aku tahu istilah ‘ kembar secara psikologis ‘. Jadi di dalam komik itu ada dua orang yang berbeda secara fisik, tidak punya hubungan darah sama sekali tetapi secara psikologis mereka bisa dikatakan kembar. Mereka saling mengerti satu sama lain. Memahami sikap, maksud bicara dan pikiran satu sama lain. Aku mau menemukan itu. Menemukan ibu, bapak, adik, kakak dan simbah psikologis ku.
          Aku mulai pencarian itu.  Seiring waktu, aku mulai terkesima dengan pemikiran budha. Dari situ juga, mulai ku gerus perlahan – lahan cinta eros ku dan kutingkatkan menjadi agape. Tidak mudah memang, sulit sekali. Bahkan aku harus rela merasakan sakit hati yang teramat sangat. Aku yakin, cinta eros tidak akan cukup menjadi wadah cinta yang ku miliki di kehidupan ini. Aku punya energi cinta yang luarbiasa besar, kepedulian yang irasional pada berbagai jenis makhluk. Contoh, aku bahkan tak merasa keberatan mendengarkan curhatan nggak penting dalam pikiran rasionalku dari seorang cewek SMA yang jatuh cinta. Aku sama sekali tidak keberatan bila harus duduk dan makan siang dengan seorang pengemis di pinggiran pasar. Kalau kamu bertanya kenapa , aku juga tidak tahu.
          Aku ingin menjadi sempurna. Melakukan apapun dengan sempurna. Sampai suatu waktu, aku sadar aku telah melakukan kecacatan dalam peranku di kehidupan ini. Peran sebagai kakak. Sebenarnya, peran sebagai anak dan adik pun tidak begitu baik kujalankan, tetapi entah kenapa kecacatan peran ku sebagai kakak sampai detik ini masih kusimpan seolah tak pernah bisa terkubur begitu saja. Waktu itu aku berumur 9 tahun dan adik ku sekitar 6 tahun. Bapak membelikan ku sepeda baru. Aku belum terampil mengendarai sepeda waktu itu dan karena senangnya hampir setiap sore aku selalu jalan-jalan dengan sepeda itu.  Sore hari, sewaktu bapak dan ibu tidak mengawasiku, aku mengeluarkan sepeda itu dengan niat ingin jalan-jalan saja . Tapi tiba-tiba adik muncul di depan pintu. Dia merengek – rengek ingin ikut. Bahkan dia berjanji, kalau jatuh nanti dia tidak akan menangis.  Aku iba dan akhirnya mengajaknya turut serta. Dia senang sekali. Ku bonceng dia dibelakang, ku kayuh sepeda dengan riang. Sampai akhirnya, aku lakukan gerakan manuver ke kiri dan ke kanan layaknya pembalap sepeda. Sedetik itu aku lupa, aku membawa beban yang masih rapuh, yang seharusnya ku jaga dengan hati  - hati . Dia terjatuh. Dan yang lebih memperparah rasa bersalah ku, ketika kulakukan gerakan manuver yang menurut ku cukup lama ku lakukan, ternyata dia terjatuh tapi tangan mungil nya masih bertahan dan menggengam standar sepeda di belakang. Jadi, dia terseret selama ku lakukan gerakan itu. Kain di kedua lututnya sobek, mulutnya berdarah. Pun ketika kami hampir sampai di rumah, dia masih kumarahi dan ku tagih janjinya untuk tidak menangis meskipun jatuh .
          Lima belas tahun berlalu. Kejadian itu masih terbungkus apik di memoriku. Mimik tangis dan leleran darah di lutut dan mulutnya membuat ku perih bahkan di detik ini. Setiap kali aku ingat kejadian itu, ada rasa bersalah yang luarbiasa besar di ujung relung ku. Aku tidak melakukannya dengan sempurna. Aku seharusnya tidak melakukan hal bodoh itu.  Aku seolah pengecut yang tak berani bertanggung jawab pada Bapak dan justru memarahi adik yang saat itu kesakitan karena ulah ku.
          Dan anehnya, efek dari kejadian itu menjadikan ku peduli pada semua adik yang ada di dunia ini. Aku juga tidak mengerti. Maka, ketika ada kakak yang tidak peduli dengan adiknya, aku akan ada disana dan menggantikan perannya. Akan ku lakukan dengan sempurna, tak boleh ada kecacatan lagi.
          Dan pergilah aku berkelana dari kota ku ke kota lain. Mencari adik –adik yang teraniaya dan tak dipedulikan kakaknya . Sampai aku tiba di suatu tempat di pulau ini. Tentu saja, aku tidak sembarangan memilih adik mana yang akan kupedulikan dan kulimpahi kasih sayang. Ada beberapa kriteria yang kupegang sebagai persyaratan. Dan kriteria yang benar-benar bernilai tujuh puluh persen adalah keadaan dimana dia benar-benar butuh untuk dicintai dan dipedulikan. Aku selalu berfikir untuk melakukan semua dengan sempurna. Baik masalah teknik atau pun landasannya sekali pun. Aku hanya berargumen, dia yang ku pilih haruslah benar-benar dia yang membutuhkan. Untuk apa kita memberi apel pada seorang penjual apel. Analogi ku berjalan seperti itu.
          Di pulau ini aku bertemu dengannya. Gadis cilik belasan tahun. Pertama kali aku menemukannya ketika dia sedang duduk dan makan es krim di kedai itu, sendirian. Namanya Indira, senyumnya manis sekali. Dalam pandang pertama itu, aku jatuhkan pilihan padanya. Akan ku jadikan dia adik ku.  Sekali itu, aku menggerus sendiri prinsipku, pada nilai tujuh puluh persen yang seharusnya amat sangat ku pertimbangkan. Aroma kesunyiannya mengobrak – abrik jantung ku. Gadis cilik rambut terurai, matanya sendu menerawang di kejauhan. Jantung ku tercabik – cabik . Lihat matanya, sinaran redup di kedua kelopaknya. Paras nya indah sekali . Aku berani bertaruh, tujuh puluh persen laki-laki akan jatuh cinta pada gadis cilik itu.  Satu langkah maju ku ayunkan mendekati gadis itu.  Bimbang, bagaimana kalau dia menolak ?. Ahh, gadis seindah itu, mana mungkin dia kekurangan kasih sayang.
          Manusia, dalam hitungan detik, dalam ukur satu langkah dapat merubah keputusannya begitu cepat. Keinginan menderu dapat lantak begitu saja. Tidak konsisten, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai tahu diri.
          Aku balik kanan, melupakan gadis cilik dengan mata sayu berparas indah itu.  Matanya, aroma kesunyiannya, satu diantara seribu bulir pasir di pantai. Aku sadar, sensasi ini tidak akan mudah ku temukan diantara adik – adik lain di dunia ini. Tapi aku berbalik juga, menjauh meninggalkannya. Pikiran praktis menggodaku beberapa detik itu .  Jika Tuhan mengijinkan, kami pasti bisa berinteraksi . Jika tidak, maka aku ditakdirkan untuk orang lain, adik – adik lain.
          Singaraja. Kota ini memang tidak begitu popular jika dibandingkan Denpasar tapi jauh sebelum ku tapakkan kaki di pulau ini, Singaraja seolah memiliki nuansa magis tersendiri bagi jiwaku.  Eiash tinggal di kota itu. Eiash, sahabat jiwa ku. Gadis bali berambut panjang, sosoknya tinggi semampai dan raganya terbalut daging padat berisi sehingga tubuhnya tampak proporsional dan sempurna sekali. Aku paling suka dengan rambut panjang dan sekali lagi, matanya. Lembut sekali dia berbicara, entahlah aku merasa berbeda. Ku bayangkan dia mendekatiku, memarahi ku karena rokok yang kuhisap. Bayangkan, dia memarahiku hanya karena rokok. Sepele sekali, katanya tidak baik perempuan merokok. Aku tentu tidak menyerah begitu saja, Aku berargumen betapa enak nya merokok bagi diriku sendiri. Kujelaskan dengan detil dan penuh semangat kala itu. Hehehe … tapi aku kalah. Aku menyerah saat itu dan memutuskan untuk berhenti merokok ketika dijawabnya argumen ku yang mengapi – api itu dengan senyum simpul dan sebaris kalimat dengan logat bali nya yang kental, “  Rokok banyak racun nya. Banyak orang mati karena rokok. Kalau kamu ndak ada, aku ndak bisa lagi marahin kamu. Kamu tau kan, aku suka sekali marah – marah sama kamu ?!’ Seketika itu juga dia nyengir dan tertawa, terlihat gigi serinya. Manis sekali. Dan aku tertawa saja, lucu sekali jawab yang dikemukakannya.
          Itu saja. Itu momen terakhir kami bertemu sebelum akhirnya dia pergi. Pergi jauh sekali, jauh yang tak mungkin bisa ku susul dengan rintangan jarak. Kami telah berbeda dimensi. Dia pergi yang tak akan pernah bisa kembali. Aku cari kabar tentangnya, dia meninggal mengidap radang paru-paru karena terlalu banyak menghisap asap rokok. Menurut analisis laborat, dia perokok pasif. Paru-parunya terinfeksi. Sebentar aku teringat, ayah dan saudara laki-lakinya adalah perokok berat. Eiash, kenapa kamu yang harus pergi ?
          Dua bulan setelah itu kuputuskan perjanjianku dengannya. Bodoh sekali menuruti orang yang sudah mati. Mulai kuhisap rokok yang tersimpan lama di laci meja. Eiash, kenapa kamu pergi ? Selanjutnya selalu begitu. Mengingatmu dan mempertimbangkan pada awal ketika jemari ini menyentuh bungkusnya lalu mencabut satu batangnya. Ya atau tidak. Pada momen ketika jemari memetik korek dan menyulutkannya di bibir batangnya. Kuhisap atau tidak. Hingga rokok itu mulai kusesap dan asap mengepul perlahan keluar dari bibir ku. Ku tunggu suara itu, tapi tak ku dengar. Maka aku marah pada diriku sendiri dan menghabiskannya.
         
Tuhan, siapa sebenarnya kucari ?
         
‘ndis
            1 januari ‘10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar