Ditulis oleh Agnès Bèrtron
Diterbitkan oleh BAYARD
PRESSE JEUNE
Diterjemahkan bebas dari seri Belles Histoires A dengan judul asli Ophélie n’est pas de cet avis !
Oleh Trianasari
Di sebuah negeri Galinase,
ayam, bebek dan burung puyuh hanya bisa tinggal di Istana Kankaneri. Di istana itu, para bebek terus – menerus
menyelenggarakan pesta, burung puyuh selalu berdansa dari pagi sampai petang.
Dan si ayam, mereka tertawa – tawa bergembira dan bercanda – canda. Tapi tak
seekor hewan pun yang berani keluar dari istana. Konon, ada tiga ekor monster
yang sedang marah, monster – monster itu akan memakan hewan yang keluar dari
istana.
Di seberang kerajaan itu
mengalir sebuah sungai yang jernih dan bersih airnya. Tapi di sungai itu hidup
seekor monster ular yang sangat beracun. Ular itu melompat – lompat,
mengeluarkan suara yang mengerikan dan membuat ombak di sungai itu. Tentu saja
tak ada seekor hewan pun yang berani mandi dan berendam di sungai itu. Hewan –
hewan yang tinggal di istana Kankaneri kemudian membuat sebuah bak air di dalam
istana untuk menampung air hujan. Bak air itu digunakan untuk minum dan mandi.
Semua hewan setuju dengan ide itu tapi hanya Oveli yang tidak setuju.
Di belakang istana Kankaneri
ada sebuah gunung yang udaranya sangat sejuk dan segar. Tetapi saying, di
puncak gunung itu seekor beruang monster tinggal disana. Beruang monster itu
membuat tanah bergetar dan batu – batu gunung berjatuhan. Tentu saja tak
mungkin bias pergi ke gunung itu untuk menghirup udara segar dan berolahraga!.
Kemudian hewan – hewan di dalam istana Kankaneri hanya bias mengeluarkan kepala
mereka ke jendela kalau mereka ingin menghirup udara segar. Selain itu mereka
menghias wajah mereka dengan bedak yang wangi. Kalau mereka ingin udara yang
wangi, mereka tinggal menempelkan hidung mereka dengan bedak. Semua hewan
setuju dengan ide itu tapi hanya Oveli yang tidak setuju!
Tak jauh dari istana kankaneri juga ada hutan yang
didalamnya tumbuh pohon – pohon monster. Pohon – pohon itu lebih tinggi dari
pohon – pohon lainnya. Siang dan malam, batangnya mengeluarkan kilat dan daun –
daunnya mengeluarkan sura tertawa yang mengerikan. Tentu saja tak mungkin pergi
ke hutan untuk mengumpulkan kayu baker untuk mengahangatkan diri!. Kalau musim
dingin tiba, hewan – hewan di dalam istana akan berdansa cha – cha – cha agar
tidak kedinginan. Ayam – ayam, burung puyuh dan bebek – bebek paling pandai
berdansa seperti itu!. Tapi
hanya Oveli yang tidak setuju!
Oveli adalah seekor burung
berbulu merah. Oveli merasa bosan tinggal di dalam istana Kankaneri. Pesta –
pesta makan dan minum membuatnya jengkel. Oveli bosan selalu mendengar mereka
membicarakan yang jelek – jelek tentang hewan lain. Hal itu sangat membosankan!
Suatu hari dia berkata, “ Aku mau berendam di tempat yang bagus!, aku mau
bertamasya ke sungai!. Tiba – tiba saja suasana yang tadinya biasa – biasa saja
menjadi berubah. Si ayam berteriak padanya, “ Oveli, kamu sudah gila ! monster
sungai akan memakanmu!”. Mendengar itu, Oveli hanya tersenyum dan berkata, “
Kita lihat saja nanti!”. Tanpa ragu – ragu Oveli membuka pintu istana yang
berat. Dengan langkah pasti Oveli menuju sungai dengan sebuah keranjang piknik
di tangannya. Dia meninggalkan
istana itu, gawat!
Di jalan, Oveli sudah
mendengar monster ular beracun itu melompat – lompat dan mengeluarkan suara
yang mengerikan dari dalam sungai. Tapi untungnya, di tengah jalan Oveli
bertemu seekor berang – berang pincang yang terlihat sangat kumal. Berang –
berang itu terlihat kasihan sekali. Berang – berang itu bertanya pada Oveli, “
Kamu mau kemana?”. Oveli berkata, “ Aku mau bertamasya ke sungai!”. Berang –
berang itu kemudian bertanya lagi, ´Apa kau mau berbagi denganku apa yang ada
di dalam keranjangmu itu? sudah lama sekali aku tidak makan.” Oveli berkata, “
Tentu saja ! ambillah semua untukmu!”. Karena Oveli tak punya lagi bekal untuk
bertamasya maka Oveli memutuskan untuk pulang ke istana.
Setibanya di istana, semua
hewan menyambutnya. “ itu dia, itu Oveli!”. Mereka membuat Oveli bingung dengan
berbagai macam pertanyaan. Tapi ketika Oveli bercerita tentang pertemuannya
dengan si berang – berang, ayam, burung puyuh dan bebek mencemoohnya, “ Dasar
hewan bodoh!”. Mereka tidak memberikan bekal makanannya kepada Berang –
berang ketika pertama kali bertemu.
Keesokan harinya, oveli
mengenakan topi kesukaannya, sarung bulu dan syal sutranya. Dengan gembira dia
berkata kepada semua hewan, “ Aku akan pergi ke gunung untuk mengirup udara
segar !”. Semua hewan tak mendengarkannya dan memalingkan muka. Tapi Oveli tetap
saja pergi dengan gembira.
Di kaki gunung, dia merasa
tanah bergetar. Dia mendengar suara batu berjatuhan dan monster beruang itu
menggeram. Tiba – tiba saja seekor anak kambing mendekatinya, menggigil
kedinginan. Anak kambing itu berkata kepada Oveli, “ Aku kedinginan. Apa kau mau memberikan topi,
sarung dan syalmu?”. Oveli berkata, “ Tentu saja ! ini untukmu!”. Dengan
perlahan, Oveli memakaikan syal dan semuanya kepada anak kambing. Oveli sedikit
kedinginan ketika pulang ke istana. Dia berkata pada diri sendiri, “ sayang
sekali ! tapi mungkin lain kali aku akan pergi ke gunung!”
Ketika dia mendorong pintu
istana yang berat, semua hewan ingin tahu kebodohan apa lagi yang dialakukan
oleh Oveli. Kemudian Oveli bercerita pertemuannya dengan anak kambing yang
kedinginan. Ayam, bebek dan burung puyuh tertawa terpingkal – pingkal. Di dalam hati mereka berkata,
“ hewan bodoh yang malang ! hewan bodoh !”. Mereka tidak memberikan sarung bulu
dan syal kepada hewan yang baru saja mereka kenal. Dan Oveli menjawab diantara
tawa mereka yang terpingkal – pingkal, “ Kenapa tidak?”
Esoknya lagi, tak seekor
hewanpun yang menaruh perhatian kepada Oveli. Ketika dia membuka pintu istana,
Oveli tetap saja berteriak dengan girang, “ Aku akan pergi ke hutan untuk
menghirup udara segar dan mengumpulkan kayu! “. Di jalan menuju hutan, Oveli
terlihat sangat gembira. Tapi tiba – tiba dia mendengar kilatan di atas langit
yang berasal dari batang pohon di hutan. Dia juga mendengar suara tawa pohon –
pohon yang mengerikan. Tiba – tiba saja dia mendengar seekor tupai menangis. Tupai itu terlihat sedih dan
putus asa. “ tupai, jangan menangis! Bergembiralah denganku !”. Untuk menghibur
si Tupai, Oveli membuat dirinya menyerupai badut, dia berpantomim dan berjalan
terlenggak – lenggok. Oveli kemudian bercerita tentang istana Kankaneri,
tentang dansa cha-cha-cha, tentang bak air dan baunya yang mengerikan. Oveli bercerita tentang
semuanya, tentang pesta makan dan minum dan tentang kegemaran mereka
bercerita.
Oveli sangat konyol, dia
berpantomim dengan sangat baik. Si Tupai tertawa meledak bagai suara petir. Dia
tertawa, teryawa dan tertawa tanpa henti!. Tiba – tiba tupai itu berubah. Di depan Oveli tupai itu berubah menjadi
seorang penyihir yang nakal. Kemudian penyihir itu berkata, “ Si berang –
berang yang kau temui kemarin adalah aku !, anak kambing yang kau jumpai, itu
aku ! dan tupai itu juga aku!” Terimakasih, terimakasih Oveli karena telah memberi
semua yang kau punya kepadaku. Keranjang piknikmu yang penuh makanan, sarung
tangan dan syalmu yang hangat dan semua canda yang telah kau ceritakan padaku!.
Untukmu Oveli akan ku ubah ular di sungai itu menjadi ular yang tidak berbisa.
Akan kubuat beruang di gunung itu berdansa dengan berjinjit sehingga tak
membuat tanah bergetar. Akan kubuat pohon raksasa dan jahat itu bernyanyi
gembira !
Disekeliling istana Kankaneri
tidak ada lagi monster yang marah. Kini, di sekeliling istana itu hanya ada
ular yang tidak berbisa, beruang yang menari dan pohon yang bernyanyi!. Ayam,
bebek dan burung puyuh kini bisa menggunakan air bersih, udara yang segar dan
hutan. Di negri Galinase, semua hewan mulai sehat! Dan setiap sore di dekat
perapian, ayam, bebek dan burung puyuh berkata, “ Indah sekali hidup yang kita
jalani sekarang ini! Iya,
Oveli memang benar!”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar