My Playlist

Kamis, 15 Maret 2012

Un Jeune Homme

Un jeune homme est venu. Beau bien construit. Il est assez élevé et  vraiment bien construit comme un officier. Pas étonnant que beaucoup de filles dans la ville  lui aime.
Musique sur: Bitty Boppy Betty


A cette époque, il se promenait dans un café. En chemin, quand  il passe, comme si les coups de vent et les feuilles d'aller où il va. Dieu! le vent était fasciné. L'ambiance est vraiment agréable  cet après-midi là. 


Il portait un chapeau brun. foulard noir, chemise blanche et costume noir que le jeune occidentale en général. Dieu!  il sait vraiment si il est beau. Mais qui sait si, en fait il est un jeune homme qui a le plus souffert dans la ville.


Il est arrivé au café. Il s'assit et a immédiatement demandé le garçon chercher une tasse de café.


Jeunesse     : Le café, stp !

Garçon       : Attendez une minute, monsieur.
Un peu plus tard.

Garcon       : S'il vous plaît, monsieur .

Jeunesse     : Attends .. tu t’apelle comment ?

Garcon       : Justin. Justin Dupont

Jeunesse     : J'ai deux questions. avez-vous jamais tomber en amour?
Garcon       : Oui.
Jeunesse     : Est-ce que c’est douleureux?
Garcon       : Trop.

Musique sur i am me once more.
Le jeune homme est devenu fou et dansé par lui-même. Dans la motion, nous savons comment douleureux et il lui faire du mal.


Garcon       : Mais c'est normal. Et je sais comment le transformer en extraordinaire.
Jeunesse     : Comment est-il? montrez-moi
Garcon   : C’est facile. Vous allez tout droite. Tournez à gauche au premier embranchement puis tournez à droite au deuxième l'intersection. Vous la trouverez.
Musique sur ohayoo ohio



Le jeune homme ne comprend toujours pas et le répète, il se marmonnant  et marcher en direction de ce que le garçon lui dit. Il marchait lentement, peur que quelque chose. Mais il est curieux et se poursuivent encore.Il est venu.Il trouve un espace. Une porte fermée brune.il ouvre lentement. Il ya d'innombrables heures de suspendre au mur. Le jeune homme confus. Le bruit se faisait de plus fort tac tic tac tic du 100x. Le jeune homme confus et s'est effondré sur la terre.


Jeunesse               : aarrrgghh ... que dois-je faire. Damn serveuse !
Garcon                 : tu m'appelles?

Jeunesse               : (choqué) haaahhh .. qu'est ce que tu fais ici?
Garcon                 : assurez-vous que vous êtes d'accord.

Jeunesse               : c’est quoi alors la réponse?
Le Garcon dans une attitude d'un jeune homme humble et arrogant a demandé. "Quelle heure est-il?"


Jeunesse               : 16h30

Garcon                 : et deux heures plus tôt, à quelle heure?

Jeunesse               : 14h 30

Garcon                 : C'est là que vous agissez stupide!

Jeunesse               : hein?

Garcon                 : deux heures plus tard c’est à quelle heure?
Jeunesse               : 18h30
Garcon                 : Et alors?
Jeunesse               : hein?
Garcon                 : le fixer!
Jeunesse               : Quoi ?
Garcon                 : stupide! Qu’est-ce que vous faites normalement à cette heure?
Jeunesse               : dîner
Garcon                 : voila ! un bouquet de fleurs, une boîte de chocolats, et bien sûr la musique.


Le jeune homme sourit. Il a dû se réconcilier et le dîner est une porte vers le bonheur.

Il se leve avec enthousiasme et a demandé le Garcon a dansé joyeusement.
Musique sur Un Paris Musette

                                                                                               

Senin, 12 Maret 2012

Langitbirujogjabali

 Mari genggam tangan ku dan jangan menangis
Mari raih jemari tangan ku dan kuberikan hatiku di hatimu
Agar kau rasa aman,
Tak takut pada esok

                            
Ini bermula dari pikiran, dia yang melahirkan ku boleh jadi dia ibu ku. Ibu biologis ku. Tapi bukan ibu jiwa ku. Dan pikiran itu menjalar miring pada bapak, kakak, adik dan bahkan simbah dan seperangkat keluarga besar lainnya. Aku percaya, mereka menjadi seperti itu karena Tuhan sudah menetapkan. Dari mereka aku ada. Aku sadar itu. Tapi secara biologis. Sementara aku, cara berpikirku mengatakan aku ini jiwa. Dan tak kutemukan rasa itu pada mereka.
          Bisa jadi mereka menganggap aku orang aneh. Pemikiran, pendapat dan tingkah laku yang ku tunjukkan , terkadang ‘nyleneh’ dan dianggap tidak wajar oleh mereka. Dari situlah mulai muncul keraguan dalam diriku. Benarkah aku ini adalah bagian dari mereka? Sampai suatu ketika aku berhadapan dengan komik detektif ( aku lupa namanya). Dari situ aku tahu istilah ‘ kembar secara psikologis ‘. Jadi di dalam komik itu ada dua orang yang berbeda secara fisik, tidak punya hubungan darah sama sekali tetapi secara psikologis mereka bisa dikatakan kembar. Mereka saling mengerti satu sama lain. Memahami sikap, maksud bicara dan pikiran satu sama lain. Aku mau menemukan itu. Menemukan ibu, bapak, adik, kakak dan simbah psikologis ku.
          Aku mulai pencarian itu.  Seiring waktu, aku mulai terkesima dengan pemikiran budha. Dari situ juga, mulai ku gerus perlahan – lahan cinta eros ku dan kutingkatkan menjadi agape. Tidak mudah memang, sulit sekali. Bahkan aku harus rela merasakan sakit hati yang teramat sangat. Aku yakin, cinta eros tidak akan cukup menjadi wadah cinta yang ku miliki di kehidupan ini. Aku punya energi cinta yang luarbiasa besar, kepedulian yang irasional pada berbagai jenis makhluk. Contoh, aku bahkan tak merasa keberatan mendengarkan curhatan nggak penting dalam pikiran rasionalku dari seorang cewek SMA yang jatuh cinta. Aku sama sekali tidak keberatan bila harus duduk dan makan siang dengan seorang pengemis di pinggiran pasar. Kalau kamu bertanya kenapa , aku juga tidak tahu.
          Aku ingin menjadi sempurna. Melakukan apapun dengan sempurna. Sampai suatu waktu, aku sadar aku telah melakukan kecacatan dalam peranku di kehidupan ini. Peran sebagai kakak. Sebenarnya, peran sebagai anak dan adik pun tidak begitu baik kujalankan, tetapi entah kenapa kecacatan peran ku sebagai kakak sampai detik ini masih kusimpan seolah tak pernah bisa terkubur begitu saja. Waktu itu aku berumur 9 tahun dan adik ku sekitar 6 tahun. Bapak membelikan ku sepeda baru. Aku belum terampil mengendarai sepeda waktu itu dan karena senangnya hampir setiap sore aku selalu jalan-jalan dengan sepeda itu.  Sore hari, sewaktu bapak dan ibu tidak mengawasiku, aku mengeluarkan sepeda itu dengan niat ingin jalan-jalan saja . Tapi tiba-tiba adik muncul di depan pintu. Dia merengek – rengek ingin ikut. Bahkan dia berjanji, kalau jatuh nanti dia tidak akan menangis.  Aku iba dan akhirnya mengajaknya turut serta. Dia senang sekali. Ku bonceng dia dibelakang, ku kayuh sepeda dengan riang. Sampai akhirnya, aku lakukan gerakan manuver ke kiri dan ke kanan layaknya pembalap sepeda. Sedetik itu aku lupa, aku membawa beban yang masih rapuh, yang seharusnya ku jaga dengan hati  - hati . Dia terjatuh. Dan yang lebih memperparah rasa bersalah ku, ketika kulakukan gerakan manuver yang menurut ku cukup lama ku lakukan, ternyata dia terjatuh tapi tangan mungil nya masih bertahan dan menggengam standar sepeda di belakang. Jadi, dia terseret selama ku lakukan gerakan itu. Kain di kedua lututnya sobek, mulutnya berdarah. Pun ketika kami hampir sampai di rumah, dia masih kumarahi dan ku tagih janjinya untuk tidak menangis meskipun jatuh .
          Lima belas tahun berlalu. Kejadian itu masih terbungkus apik di memoriku. Mimik tangis dan leleran darah di lutut dan mulutnya membuat ku perih bahkan di detik ini. Setiap kali aku ingat kejadian itu, ada rasa bersalah yang luarbiasa besar di ujung relung ku. Aku tidak melakukannya dengan sempurna. Aku seharusnya tidak melakukan hal bodoh itu.  Aku seolah pengecut yang tak berani bertanggung jawab pada Bapak dan justru memarahi adik yang saat itu kesakitan karena ulah ku.
          Dan anehnya, efek dari kejadian itu menjadikan ku peduli pada semua adik yang ada di dunia ini. Aku juga tidak mengerti. Maka, ketika ada kakak yang tidak peduli dengan adiknya, aku akan ada disana dan menggantikan perannya. Akan ku lakukan dengan sempurna, tak boleh ada kecacatan lagi.
          Dan pergilah aku berkelana dari kota ku ke kota lain. Mencari adik –adik yang teraniaya dan tak dipedulikan kakaknya . Sampai aku tiba di suatu tempat di pulau ini. Tentu saja, aku tidak sembarangan memilih adik mana yang akan kupedulikan dan kulimpahi kasih sayang. Ada beberapa kriteria yang kupegang sebagai persyaratan. Dan kriteria yang benar-benar bernilai tujuh puluh persen adalah keadaan dimana dia benar-benar butuh untuk dicintai dan dipedulikan. Aku selalu berfikir untuk melakukan semua dengan sempurna. Baik masalah teknik atau pun landasannya sekali pun. Aku hanya berargumen, dia yang ku pilih haruslah benar-benar dia yang membutuhkan. Untuk apa kita memberi apel pada seorang penjual apel. Analogi ku berjalan seperti itu.
          Di pulau ini aku bertemu dengannya. Gadis cilik belasan tahun. Pertama kali aku menemukannya ketika dia sedang duduk dan makan es krim di kedai itu, sendirian. Namanya Indira, senyumnya manis sekali. Dalam pandang pertama itu, aku jatuhkan pilihan padanya. Akan ku jadikan dia adik ku.  Sekali itu, aku menggerus sendiri prinsipku, pada nilai tujuh puluh persen yang seharusnya amat sangat ku pertimbangkan. Aroma kesunyiannya mengobrak – abrik jantung ku. Gadis cilik rambut terurai, matanya sendu menerawang di kejauhan. Jantung ku tercabik – cabik . Lihat matanya, sinaran redup di kedua kelopaknya. Paras nya indah sekali . Aku berani bertaruh, tujuh puluh persen laki-laki akan jatuh cinta pada gadis cilik itu.  Satu langkah maju ku ayunkan mendekati gadis itu.  Bimbang, bagaimana kalau dia menolak ?. Ahh, gadis seindah itu, mana mungkin dia kekurangan kasih sayang.
          Manusia, dalam hitungan detik, dalam ukur satu langkah dapat merubah keputusannya begitu cepat. Keinginan menderu dapat lantak begitu saja. Tidak konsisten, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai tahu diri.
          Aku balik kanan, melupakan gadis cilik dengan mata sayu berparas indah itu.  Matanya, aroma kesunyiannya, satu diantara seribu bulir pasir di pantai. Aku sadar, sensasi ini tidak akan mudah ku temukan diantara adik – adik lain di dunia ini. Tapi aku berbalik juga, menjauh meninggalkannya. Pikiran praktis menggodaku beberapa detik itu .  Jika Tuhan mengijinkan, kami pasti bisa berinteraksi . Jika tidak, maka aku ditakdirkan untuk orang lain, adik – adik lain.
          Singaraja. Kota ini memang tidak begitu popular jika dibandingkan Denpasar tapi jauh sebelum ku tapakkan kaki di pulau ini, Singaraja seolah memiliki nuansa magis tersendiri bagi jiwaku.  Eiash tinggal di kota itu. Eiash, sahabat jiwa ku. Gadis bali berambut panjang, sosoknya tinggi semampai dan raganya terbalut daging padat berisi sehingga tubuhnya tampak proporsional dan sempurna sekali. Aku paling suka dengan rambut panjang dan sekali lagi, matanya. Lembut sekali dia berbicara, entahlah aku merasa berbeda. Ku bayangkan dia mendekatiku, memarahi ku karena rokok yang kuhisap. Bayangkan, dia memarahiku hanya karena rokok. Sepele sekali, katanya tidak baik perempuan merokok. Aku tentu tidak menyerah begitu saja, Aku berargumen betapa enak nya merokok bagi diriku sendiri. Kujelaskan dengan detil dan penuh semangat kala itu. Hehehe … tapi aku kalah. Aku menyerah saat itu dan memutuskan untuk berhenti merokok ketika dijawabnya argumen ku yang mengapi – api itu dengan senyum simpul dan sebaris kalimat dengan logat bali nya yang kental, “  Rokok banyak racun nya. Banyak orang mati karena rokok. Kalau kamu ndak ada, aku ndak bisa lagi marahin kamu. Kamu tau kan, aku suka sekali marah – marah sama kamu ?!’ Seketika itu juga dia nyengir dan tertawa, terlihat gigi serinya. Manis sekali. Dan aku tertawa saja, lucu sekali jawab yang dikemukakannya.
          Itu saja. Itu momen terakhir kami bertemu sebelum akhirnya dia pergi. Pergi jauh sekali, jauh yang tak mungkin bisa ku susul dengan rintangan jarak. Kami telah berbeda dimensi. Dia pergi yang tak akan pernah bisa kembali. Aku cari kabar tentangnya, dia meninggal mengidap radang paru-paru karena terlalu banyak menghisap asap rokok. Menurut analisis laborat, dia perokok pasif. Paru-parunya terinfeksi. Sebentar aku teringat, ayah dan saudara laki-lakinya adalah perokok berat. Eiash, kenapa kamu yang harus pergi ?
          Dua bulan setelah itu kuputuskan perjanjianku dengannya. Bodoh sekali menuruti orang yang sudah mati. Mulai kuhisap rokok yang tersimpan lama di laci meja. Eiash, kenapa kamu pergi ? Selanjutnya selalu begitu. Mengingatmu dan mempertimbangkan pada awal ketika jemari ini menyentuh bungkusnya lalu mencabut satu batangnya. Ya atau tidak. Pada momen ketika jemari memetik korek dan menyulutkannya di bibir batangnya. Kuhisap atau tidak. Hingga rokok itu mulai kusesap dan asap mengepul perlahan keluar dari bibir ku. Ku tunggu suara itu, tapi tak ku dengar. Maka aku marah pada diriku sendiri dan menghabiskannya.
         
Tuhan, siapa sebenarnya kucari ?
         
‘ndis
            1 januari ‘10

Tikus kota dan tikus kampung

Judul asli                   : Souris – des – villes et Rat – des – champs
Ditulis oleh                : Kathrin Schãrer
Adaptasi dari Bernard Friot 2008
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histoires
Penerbit bayard jeunesse
Trianasari


Untuk pertama kalinya seekor tikus kecil yang tinggal di kota pergi mengunjungi kawannya seekor tikus sawah di desa. Sesampainya disana, tikus sawah mengajak tikus kota berjalan – jalan ke peternakan. Mereka mengunjungi kandang sapi. Uups ! harus berhati – hati. Kemudian menuju kandang babi. Uups! Bau sekali ! mereka harus menutup hidung. Lalu melewati pekarangan dan bertemulah mereka dengan beberapa ekor ayam. ” Tolooong... tolooongg!! Monster itu akan memakan ku!”, teriak tikus kota sambil berlari. Terakhir, mereka mengunjungi ladang gandum. Aww...aww...aww ! kaki tikus kota tertusuk duri.Ketika malam telah tiba, mereka berdua berdiri di luar sambil menikmati malam penuh dengan bintang. Si tikus kota sangat takjub dibuatnya. Setelah itu, tikus sawah yang punya persediaan makanan yang banyak mengajak tikus kecil untuk makan bersama. Tikus sawah mengumpulkan banyak makanan selama musim panas untuk persediaan selama musim dingin. Dengan ramah, tikus sawah mempersilakan tikus kecil mencicipi biji kenari dan biji gandum.
Keesokan harinya, mereka bangun pagi sekali untuk menikmati matahari terbit. ” Indah sekali !”, kata tikus kecil penuh kekaguman.                                             ” Di tempat ini, matahari seperti muncul dari dalam bumi. Di kotaku, matahari terlihat di atas gedung – gedung tinggi. Ayo, kuajak kau pergi mengunjungi kotaku!” . Sesampainya di kota, tikus kecil dengan setia menunjukkan kepada kawannya dari desa semua yang menyenangkan di kota. Mereka melihat kereta yang berjalan cepat, melaju cepat sekali. Luar biasa! Tikus sawah sangat terkesan dengan semua yang ada di kota. Suara bising, asap kendaraan dan semua orang yang lalu – lalang!. Dan itu, apa itu ? mengerikan, ada seekor anjing !. Tikus sawah benar – benar merasa takut.  Tapi pemandangan kota yang penuh dengan    lampu – lampu membuat tikus sawah terkesima sampai melongo.
Tikus kecil tinggal di dekat sungai, di sebuah selokan. Dia tinggal bersama teman – temannya yang berjumlah tiga puluh tiga ekor tikus, jantan dan betina. Sepanjang malam, mereka bernyanyi dan berdansa. Mereka berfoya – foya dan berpesta pora. Di pagi hari, tikus sawah terbangun karena suara deru sebuah motor. Tikus – tikus kota menyebutnya sebagai traktor. ” Cepat ! Bergegaslah ! ” kata tikus kota. ” Sebuah perahu telah tiba!”Sebuah kapal panjang kembali memperlihatkan sungai yang terlena di dalam kabut. ”
Indah sekali tempatmu ini... ” kata tikus sawah sambil menggigil. ” Tapi... ”. Kata – kata itu tidak dilanjutkan. Suasana lalu sepi. ” Tempatmu juga indah, kawan. ” kata tikus kota sambil merangkul kawannya. ” Tapi...” kata – kata itupun tidak dilanjutkan. Suasana kembali sepi. ” Lalu bagaimana ? ” tanya tikus sawah. ” Aku tidak tahu.” kata tikus kota. ” Bagaimana kalau kita menikmati pemandangan sungai itu bersama – sama ?” 

Seekor singa dan monyet betina


Judul asli    : Le Lion et la Guenon
Ditulis oleh : Claire Barré
Diterbitkan oleh bayard jeunesse
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histoires
Oleh trianasari



Suatu hari di sebuah padang rumput di Afrika yang panas. Léonard seekor singa yang tampan dan sombong sedang minum dengan tenang di sebuah mata air. Tiba – tiba saja dia mangaum marah seperti seekor kucing yang sangat besar ketika air menyembur ke mukanya. Ternyata ada sebuah batu besar yang di lemparkan ke mata air itu. ” Siapa yang berani menciprati air ke mukaku ?” aum Léonard dengan marah. Tak lama kemudian dia mendengar suara tawa terkikik dibalik semak – semak. Benar, ternyata seekor binatang sedang menertawakan si singa!
            Masih marah dan dengan mulut ditarik ke belakang, seolah Léonard telah siap untuk menggigit siapa yang berani mengejeknya. Dia lalu melompat ke semak – semak dan mendarat... Ups! tepat di atas tubuh seekor monyet betina!. Léonardtak pernah melihat seekor monyet betina yang secantik monyet itu. Léonard merasa tertarik. Dengan terbata dia bertanya, ” Sssi..siapa namamu?”. ” Lina” jawab monyet betina itu. Ternyata Lina juga merasa tertarik dengan Léonard, dia telah jatuh cinta pada singa itu! 
            Kemudian pasangan binatang yang sedang jatuh cinta ini pergi mengarungi padang rumput. Léonard ingin mengenalkan Lina kepada keluarganya tapi ketika mereka telah tiba, mereka diterima dengan marah oleh keluarga singa! ” Memalukan! Anakku dengan seekor monyet ? kenapa tidak dengan hyena yang setidaknya sama dengan kita? ” aum ibu Léonard dengan sangat marah. Semua singa yang ada disana tertawa mengejek. Ayah Léonard menggeram, denag gaya bangsawan dia berkata, ” Kai semua yang ada disii merasa malu. Léonard, bagi kami, kau bukan lagi seekor singa. Kau tak lebih dari seekor monyet besar yang sedang jatuh cinta pada monyet betina!”
            Ditolak dari keluarga singa, mereka pun menuju ke hutan. Lina berpikir mungkin keluarganya akan menerima mereka. Tapi yang mereka terima ketika memasuki hutan adalah lemparan buah kelapa. ” Apa kamu sudah gila, Lina ?” kata ayahnya dengan marah. ” Singa ini akan memakan kita, dia adalah pemakan daging!. Dia sangat berbahaya, instingnya akan lebih besar lagi! ” Seekor kera kecil menggigil ketakutan di pelukan ibunya. Léonard dan Lina tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan... Keluarga singa dan keluarga kera telah menolak mereka. ” Jangan khawatir, Léonard! Kita saling menyukai. Itu yang penting, bukan? ” kata monyet betina.
            Mereka lalu mengungsi di sebuah sudut hutan di batas antara daerah singa dan daerah kera. Tetapi malam itu, badai yang mengerikan sedang terjadi. Garis – garis putih berkilat di langit. Petir menyambar, membakar hutan. Léonard dan Lina melihat dari kejauhan singa – singa yang berusaha melarikan diri tapi nyala api telah mengepung mereka!. Masing – masing singa membawa seekor singa kecil di moncongnya sementara yang lain menangis karena ditingggal di kepungan nyala api yang kian mendekat.
            Léonard dan Lina saling menatap, ketakutan. Tapi mereka harus berbuat sesuatu. Dibuangnya ketakuatan itu jauh – jauh dan mereka pun lalu memutuskan sesuatu. Lina lau melompat ke punggung Léonard sambil berteriak, ” Ayo, kita selamatkan mereka!” . Mereka berlari menyebrangi nyala api. Lina menyambar bayi – bayi singa dan meletakkan mereka di punggung Léonard. Api semakin mendekat, berbahaya. Tapi dengan gigih Léonard melompat keluar dari kepungan api dan bayi – bayi singa itu pun dapat diselamatkan.
            Setelah malam itu, Lina pun diijinkan untuk tinggal bersama keluarga singa. Tapi kebakaran hutan kemarin membuat binatang lain lari ketakutan. Dengan begitu berkurang pula makanan bagi para singa. Singa – singa itu pun cepat sekali menjadi lapar. Mereka lalu melihat Lina sebagai makanan yang sangat lezat. Seekor singa betina berbicara, ” Kita lapar. Kenapa kita tidak mengenyangkan perut kita?. Monyet itu tampaknya sebuah santapan yang istimewa!”. Léonard mengaum, ” Jangan mendekati Lina atau kalian akan berurusan denganku! Aku akan mencarikan kalian makan, aku berjanji. ” Lina lalu berkata pada Léonard, ” Aku punya ide.”. setelah mengatakan itu, Lina lalu menjauh masuk menuju huta.
            Tak lama kemudian Lina kembali dengan membawa buah – buahan segar. Pisang, mangga, jambu biji dan leci. Singa – singa itu sedikit tersinggung. ” Apa itu? Buah – buahan? Kenapa tidak rumput saja sekalian ? kami ini adalah pemakan daging. Kami makan zebra dan rusa! Lina kau telah mengejek kami!” . Léonard yang juga heran dengan perbuatan Lina kemudian bertanya, ” Lina untuk siapa buah – buahan itu? Benarkah itu yang kau tawarkan pada kami? Buah – buahan?”. Dengan tersenyum Lina lalu menjawab, ” Paling tidak cicipilah...”
            Burung – burung pemakan bangkai pun juga sangat keheranan melihat tingkah laku singa – singa yang memakan lahap buah – buahan dan bukannya daging!. Anak – anak singamemakan buah favorit mereka, pisang. Singa betina sangat menyukai air kelapa. Lina juga telah menyiapkan salade mangga dan leci untuk Léonard. Ayah Léonard, menjilati makanan yang ada di ibirnya dan berkata, ” Sungguh ! ini lebih baik dari makanan apapun. Buah – buahan ini sangat lezat!” Dan singa – singa itupun menjadi satu – satunya kelompok singa vegetarian.
            Sejak saat itu, keluarga singa pindah untuk menetap di dalam hutan. Mereka hidup di pohon buah – buahan bersama dengan para kera dan ular boa. Mereka terkenal sebagai pemakan buah nanas. Leonard dan Lina selalu saling mencintai, hidup dengan sanagt bahagia dan memiliki banyak anak.  

Putri berambut panjang


Ditulis oleh : Annemarie van Haeringen
Adaptasi oleh : Joëlle Cariou
Diterbitkan oleh : Bayard Presse
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histores serie A dengan judul asli la princesse aux très longs cheveux
Oleh trianasari


Di sebuah negeri yang kecil lahirlah seorang putri. Sang raja tentu saja bahagia dengan kelahiran putrinya. Putri itu sangat cantik. Rambutnya sangat indah. Bayi mungil tadi tumbuh menjadi seorang putri tapi anehnya rambut yang ada di kepala sang putri tumbuh lebih panjang melebihi ukuran tubuhnya. Rambutnya tumbuh menjadi panjang sekali. Tentu saja sang putri merasa berat dengan rambut panjangnya itu. Setiap hari, lima orang pelayan pria datang untuk melayani sang putri. Pelayan itu menyisir rambutnya. Karena rambutnya yang sangat panjang itu, sang putri menderita sekali ketika mandi. Seluruh rambutnya terkena sabun dan membuat matanya pedih. Seminggu sekali, di sebuah kolam yang besar, lima orang pelayan wanita membantunya untuk mencuci, membilas dan mengeringkan rambutnya.
            Rambut itu sangat berat dan membuat sang putri lelah. Sang putri ingin sekali memotongnya tapi sang ayah selalu berkata, ” Rambut adalah perhiasan yang paling berharga bagi wanita, semakin panjang dan semakin indah rambutnya, itu semakinbaik.”. kemudian sang putri hanya bisa duduk terdiam dan duduk termenung tak bergerak sedikitpun.
            Beberapa jam kemudian, sang putri melepas ikat rambutnya dan mengikatnya lagi menjadi ekor kuda berkepang dua. Akhirnya sang putri berkata pada diri sendiri, ” kalau aku tak boleh memotongnya, maka mulai sekarang akan kumasukkan rambutku ke dalam koper.”
            Para pelayan merasa kasihan dan tidak tega membiarkan sang putri membawa koper itu sendirian. Tapi bagaimanapun juga, ada kalanya sang putri benar – benar tidakbisa ditemani. Seperti ketika sang putri berada di kamar mandi. Rambutnya kini semakin panjang dan koper itu menjadi penuh dan sesak. Sang putri tak lagi kuat membawa koper rambutnya.
            Sang raja kemudian menyewa seorang pria berotot yang bekerja di sebuah sirkus. Pria itu sangat baik. Dia sangat tangkas dan kuat. Pria itu bisa mengangangkat kuda, akrobat dan pria itu selalu bercerita kepada sang putri tentang negri jauh yang pernah dilaluinya ketika bersama rombongan sirkus.
            Waktu berlalu, sang raja menyadari bahwa sang putri kini telah dewasa dan siap untuk menikah. Tapi siapa yang menyukai seorang putri yang tersekap diantara dua koper dan seorang pria berotot.
            Sang raja lalu membuat pengumuman di seluruh dunia. Raja memberitahukan bahwa di dalam koper itu tersembunyi harta yang tak ternilai harganya. Segera saja para raja dan kaisar berdatangan. Mereka datang dan membawa benda- benda yang indah terbuat dari emas dan berlian. Ada juga yang membawa uang yang sanga banyak.
            Di bawah kaki sang putri tersebar banyak sekali sisir dan sikat yang terbuat dari bahan yang sangat mahal harganya. Sisir dan sikat itu adalah hadiah dari raja dan kaisar. Tapi sayang, sang putri tak mau menikah dengan salah satu dari mereka.
            Malam itu, sang putri meyelinap ke luar istana untuk melarikan diri ke pegunungan. Putri hanya membawa dua koper dane mengajak serta pria berotot. Sepanjang hari mereka mengendap – endap melintasi gunung dan perbukitan mencari rombongan sirkus yang lewat. Ketika malam hari tiba, udara menjadi dingin. Putri membuka kopernya dan menjadikan rambutnya sebagai selimut.
            Suatu hari, akhirnya mereka menemukan rombongan sirkus. Pria  berotot memotong sedikit rambut sang putri agar sang putri bisa membawa rambut itu seorang diri. Sang putri kini menemukan kebahagiaan di sirkus itu. Sang putri memanfaatkan rambutnya yang panjang itu untuk bermain ayunan sirkus. 

HANYA OVELI YANG TIDAK SETUJU!


Ditulis oleh Agnès Bèrtron
Diterbitkan oleh BAYARD PRESSE JEUNE
Diterjemahkan bebas dari seri Belles Histoires A dengan judul asli Ophélie n’est pas de cet avis !
Oleh Trianasari


Di sebuah negeri Galinase, ayam, bebek dan burung puyuh hanya bisa tinggal di Istana Kankaneri. Di istana itu, para bebek terus – menerus menyelenggarakan pesta, burung puyuh selalu berdansa dari pagi sampai petang. Dan si ayam, mereka tertawa – tawa bergembira dan bercanda – canda. Tapi tak seekor hewan pun yang berani keluar dari istana. Konon, ada tiga ekor monster yang sedang marah, monster – monster itu akan memakan hewan yang keluar dari istana.
Di seberang kerajaan itu mengalir sebuah sungai yang jernih dan bersih airnya. Tapi di sungai itu hidup seekor monster ular yang sangat beracun. Ular itu melompat – lompat, mengeluarkan suara yang mengerikan dan membuat ombak di sungai itu. Tentu saja tak ada seekor hewan pun yang berani mandi dan berendam di sungai itu. Hewan – hewan yang tinggal di istana Kankaneri kemudian membuat sebuah bak air di dalam istana untuk menampung air hujan. Bak air itu digunakan untuk minum dan mandi. Semua hewan setuju dengan ide itu tapi hanya Oveli yang tidak setuju.
Di belakang istana Kankaneri ada sebuah gunung yang udaranya sangat sejuk dan segar. Tetapi saying, di puncak gunung itu seekor beruang monster tinggal disana. Beruang monster itu membuat tanah bergetar dan batu – batu gunung berjatuhan. Tentu saja tak mungkin bias pergi ke gunung itu untuk menghirup udara segar dan berolahraga!. Kemudian hewan – hewan di dalam istana Kankaneri hanya bias mengeluarkan kepala mereka ke jendela kalau mereka ingin menghirup udara segar. Selain itu mereka menghias wajah mereka dengan bedak yang wangi. Kalau mereka ingin udara yang wangi, mereka tinggal menempelkan hidung mereka dengan bedak. Semua hewan setuju dengan ide itu tapi hanya Oveli yang tidak setuju!
Tak jauh dari istana kankaneri juga ada hutan yang didalamnya tumbuh pohon – pohon monster. Pohon – pohon itu lebih tinggi dari pohon – pohon lainnya. Siang dan malam, batangnya mengeluarkan kilat dan daun – daunnya mengeluarkan sura tertawa yang mengerikan. Tentu saja tak mungkin pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu baker untuk mengahangatkan diri!. Kalau musim dingin tiba, hewan – hewan di dalam istana akan berdansa cha – cha – cha agar tidak kedinginan. Ayam – ayam, burung puyuh dan bebek – bebek paling pandai berdansa seperti itu!. Tapi hanya Oveli yang tidak setuju!
Oveli adalah seekor burung berbulu merah. Oveli merasa bosan tinggal di dalam istana Kankaneri. Pesta – pesta makan dan minum membuatnya jengkel. Oveli bosan selalu mendengar mereka membicarakan yang jelek – jelek tentang hewan lain. Hal itu sangat membosankan! Suatu hari dia berkata, “ Aku mau berendam di tempat yang bagus!, aku mau bertamasya ke sungai!. Tiba – tiba saja suasana yang tadinya biasa – biasa saja menjadi berubah. Si ayam berteriak padanya, “ Oveli, kamu sudah gila ! monster sungai akan memakanmu!”. Mendengar itu, Oveli hanya tersenyum dan berkata, “ Kita lihat saja nanti!”. Tanpa ragu – ragu Oveli membuka pintu istana yang berat. Dengan langkah pasti Oveli menuju sungai dengan sebuah keranjang piknik di tangannya. Dia meninggalkan istana itu, gawat!
Di jalan, Oveli sudah mendengar monster ular beracun itu melompat – lompat dan mengeluarkan suara yang mengerikan dari dalam sungai. Tapi untungnya, di tengah jalan Oveli bertemu seekor berang – berang pincang yang terlihat sangat kumal. Berang – berang itu terlihat kasihan sekali. Berang – berang itu bertanya pada Oveli, “ Kamu mau kemana?”. Oveli berkata, “ Aku mau bertamasya ke sungai!”. Berang – berang itu kemudian bertanya lagi, ´Apa kau mau berbagi denganku apa yang ada di dalam keranjangmu itu? sudah lama sekali aku tidak makan.” Oveli berkata, “ Tentu saja ! ambillah semua untukmu!”. Karena Oveli tak punya lagi bekal untuk bertamasya maka Oveli memutuskan untuk pulang ke istana.
Setibanya di istana, semua hewan menyambutnya. “ itu dia, itu Oveli!”. Mereka membuat Oveli bingung dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi ketika Oveli bercerita tentang pertemuannya dengan si berang – berang, ayam, burung puyuh dan bebek mencemoohnya, “ Dasar hewan bodoh!”. Mereka tidak memberikan bekal makanannya kepada Berang – berang ketika pertama kali bertemu.
Keesokan harinya, oveli mengenakan topi kesukaannya, sarung bulu dan syal sutranya. Dengan gembira dia berkata kepada semua hewan, “ Aku akan pergi ke gunung untuk mengirup udara segar !”. Semua hewan tak mendengarkannya dan memalingkan muka. Tapi Oveli tetap saja pergi dengan gembira.
Di kaki gunung, dia merasa tanah bergetar. Dia mendengar suara batu berjatuhan dan monster beruang itu menggeram. Tiba – tiba saja seekor anak kambing mendekatinya, menggigil kedinginan. Anak kambing itu berkata kepada Oveli, “ Aku kedinginan. Apa kau mau memberikan topi, sarung dan syalmu?”. Oveli berkata, “ Tentu saja ! ini untukmu!”. Dengan perlahan, Oveli memakaikan syal dan semuanya kepada anak kambing. Oveli sedikit kedinginan ketika pulang ke istana. Dia berkata pada diri sendiri, “ sayang sekali ! tapi mungkin lain kali aku akan pergi ke gunung!”
Ketika dia mendorong pintu istana yang berat, semua hewan ingin tahu kebodohan apa lagi yang dialakukan oleh Oveli. Kemudian Oveli bercerita pertemuannya dengan anak kambing yang kedinginan. Ayam, bebek dan burung puyuh tertawa terpingkal – pingkal. Di dalam hati mereka berkata, “ hewan bodoh yang malang ! hewan bodoh !”. Mereka tidak memberikan sarung bulu dan syal kepada hewan yang baru saja mereka kenal. Dan Oveli menjawab diantara tawa mereka yang terpingkal – pingkal, “ Kenapa tidak?”
Esoknya lagi, tak seekor hewanpun yang menaruh perhatian kepada Oveli. Ketika dia membuka pintu istana, Oveli tetap saja berteriak dengan girang, “ Aku akan pergi ke hutan untuk menghirup udara segar dan mengumpulkan kayu! “. Di jalan menuju hutan, Oveli terlihat sangat gembira. Tapi tiba – tiba dia mendengar kilatan di atas langit yang berasal dari batang pohon di hutan. Dia juga mendengar suara tawa pohon – pohon yang mengerikan. Tiba – tiba saja dia mendengar seekor tupai menangis. Tupai itu terlihat sedih dan putus asa. “ tupai, jangan menangis! Bergembiralah denganku !”. Untuk menghibur si Tupai, Oveli membuat dirinya menyerupai badut, dia berpantomim dan berjalan terlenggak – lenggok. Oveli kemudian bercerita tentang istana Kankaneri, tentang dansa cha-cha-cha, tentang bak air dan baunya yang mengerikan. Oveli bercerita tentang semuanya, tentang pesta makan dan minum dan tentang kegemaran mereka bercerita. 
Oveli sangat konyol, dia berpantomim dengan sangat baik. Si Tupai tertawa meledak bagai suara petir. Dia tertawa, teryawa dan tertawa tanpa henti!. Tiba – tiba tupai itu berubah.  Di depan Oveli tupai itu berubah menjadi seorang penyihir yang nakal. Kemudian penyihir itu berkata, “ Si berang – berang yang kau temui kemarin adalah aku !, anak kambing yang kau jumpai, itu aku ! dan tupai itu juga aku!” Terimakasih, terimakasih Oveli karena telah memberi semua yang kau punya kepadaku. Keranjang piknikmu yang penuh makanan, sarung tangan dan syalmu yang hangat dan semua canda yang telah kau ceritakan padaku!. Untukmu Oveli akan ku ubah ular di sungai itu menjadi ular yang tidak berbisa. Akan kubuat beruang di gunung itu berdansa dengan berjinjit sehingga tak membuat tanah bergetar. Akan kubuat pohon raksasa dan jahat itu bernyanyi gembira !
Disekeliling istana Kankaneri tidak ada lagi monster yang marah. Kini, di sekeliling istana itu hanya ada ular yang tidak berbisa, beruang yang menari dan pohon yang bernyanyi!. Ayam, bebek dan burung puyuh kini bisa menggunakan air bersih, udara yang segar dan hutan. Di negri Galinase, semua hewan mulai sehat! Dan setiap sore di dekat perapian, ayam, bebek dan burung puyuh berkata, “ Indah sekali hidup yang kita jalani sekarang ini! Iya, Oveli memang benar!” 

Menjadi seekor tikus kecil


Judul asli               : Comme une petite souris
Ditulis oleh            : Anne – Isabelle Lacasagne
Diterjemahkan bebas dari les belles histoires
Diterbitkan oleh    : bayard jeunesse
Diterjemahkan oleh Trianasari

Sebuah nyanyian kecil telah membangunkan Helene malam itu. Tapi siapa itu yang menyanyi dengan suara indah ketika hari telah begitu larut ?.  Oh ! rupanya seekor tikus kecil betina yang sangat lucu. Tikus kecil itu menunduk di depan Helene sambil bernyanyi – nyanyi kecil.          ” Di Saint – Helene, kau akan melihat sang ratu!”. Helene segera memberi hormat kepada ratu tikus itu dan berkata. ” Selamat malam, Yang mulia”. Ratu tikus itu sangat gembira. Dia berkata, ” Untuk pestamu, aku akan menawarkan sebuah kado. Aku akan mengajakmu mengelilingi rumahmu”. Helene lalu menjawab, ” Apakah kadonya hanya seperti itu?” tanya Helene dengan kecewa.
” Apa !!??” Ratu tikus memprotes Helene. ” Helene, kau sama sekali belum mengerti tempat – tempat tersembunyi dan tempat – tempat rahasia di rumahmu sendiri.” Ratu tikus lalu melayangkan tongkatnya. Dalam sekejap mata, kumpulan bintang – bintang sihir berputar – putar mengelilingi Helene. Di dalam kepungan  bintang – bintang itu Helene menjadi kecil dan terus mengecil seperti tubuh seekor tikus. Setelah itu, Ratu tikus membawanya menuju sebuah lubang di dalam tembok. ” Apakah kau mau masuk dan melihatnya ?” . Ada apa di balik tembok sebelah sana?. Ternyata dibalik tembok itu adalah kamar tidur kakak Helene Virgile. Virgile tidur lelap dan mengorok.
Helene lalu mengambil kesempatan itu untuk melompat – lompat di tempat tidur. Bersama Ratu tikus, Helene berjumpalitan. ” Hei, lihat !” Teriak Helene kepada ratu tikus dengan terkejut. ” Virgile masih saja tidur! Padahal aku telah berjumpalitan di atas tubuhnya.” Ratu tikus kemudian bernyanyi, ” Di saint – Helene, si kakak membuat kami terkejut! Ayo kita lanjutkan kunjungan kita...”. Dan hap! Mereka sampai di toilet. Helene begitu terkejut melihat dudukan toilet sangat tinggi. Kemudian mereka beralih menuju tempat untuk menaruh sapu. Hei, ada apa itu disana? Oh, ternyata mainan boneka tentara yang sedang berjaga – jaga. ” Itu pasti mainan Virgile!” Kata Helene. Ratu tikus menambahkan, ” Iya benar. Itu semua adalah mainan Virgile. Ketika dia ada di toilet, dia membawa pasukannya dan bermain perang – perangan”. Ratu tikus kemudian bernyanyi, ” Di Saint – Helene, mainan – mainan itu mengejutkan kami !”
Kemana lagi mereka melanjutkan kunjungannya. Oh, tiba – tiba Helene ingat warna dan bentuk karpet di ruangan itu. Itu adalah kamar tidur orang tua mereka. Di kamar itu, mereka sedang tidur nyenyak dengan badan saling merapat satu sama lain. Helene mendengar suara Ibunya yang mengigau, ” Sebuah rumah pondok di hutan...” dan Ayahnya juga mengigau, dia berkata, ” Berekreasi...”. Sssstttt...mereka bermimpi hal yang sama.” Kata Ratu tikus dengan suara yang sangat pelan. Ratu tikus kemudian bernyanyi, ” Di Saint – Helene, ayah dan ibu membuat kami terkejut!”. Kini mereka melanjutkan perjalanan melewati sebuah almari besar.
Helene mendarat di tengah – tengah kumpulan sikat gigi.                    ” Kamar mandi !”jelas Helene. Ratu tikus melompat turun ke wastafel dan memindahkan sebuah ubin di dinding. Ada apa di balik dinding itu? Oh, ternayta itu adalah tempat persembunyian benda – benda Ibunya. Di tempat itu Ibu meletakkan semua perhiasannya. Di tempat itu ada juga kalung bayi. Helene membungkukkan badan untuk melihat sisi dalamnya. ” Oh ! Ada coklat lapis!” kata Helene. Ratu tikus menjawab, ” Itulah rahasia Ibumu, Helene.”. Kemudian Ratu tikus bernyanyi, ” Di Saint – Helene para Ibu membuat kami terkejut !”
Pada perjalanan selanjutnya, ratu tikus mengundang Helene mengunjungi rumahnya. Rumah itu terletak di dalam mesin cuci. Tempat itu aneh bagi Hele tapi hangat, empuk dan penuh dengan pakaian. ” Tempat ini aku anggap sebagai kamar tidurku” kata Ratu tikus. Helene mengenali kaos kakinya yang berwarna merah jambu. ” Ini adalah selimutku, hangat sekali” kata Ratu tikus. Helene berharap kalau Ratu tikus bersedia mengembalikan kaos kakinya tetapi dia tak punya waktu untuk mengatakannya. Tiba – tiba saja Ratu tikus ketakutan, tubuhnya gemetaran. Dari balik kaca mesin cuci mereka melihat seekor kucing mendekat !. Seluruh bulu ratu tikus berdiri dan tanpa disadari mahkotanya terjatuh. ” Sejak kau memelihara kucing ini, hidupku tidak pernah tenang. Aku selalu ketakutan. Kucing itu selalu mengejarku tanpa henti.” protes Ratu tikus. ” Tapi kucing itu sangat baik ” kata Helene. Ratu tikus menatap Helene dengan pandangan tidak setuju.            ” Tapi semua kucing memakan tikus, meskipun kucing itu baik” .                ” Kucing itu akan membuka pintu!” teriak Ratu tikus ketakutan. Dengan cepat Ratu tikus segera bertindak. Disentuhnya Helene dengan tongkat sihirnya dan tiba – tiba kumpulan bintang – bintang sihirpun mengelilingi Helene. Dalam sekejap mata, Helene berubah kembali menjadi besar, besar dan besar.... Cepat ! segera saja Helene keluar dari mesin cuci dan memeluk kucing itu. Uups ! itu adalah saat yang tepat untuk Ratu tikus melarikan diri. 

Menginap Semalam di Sekolah


Judul asli     : Une nuit à l’école
Ditulis oleh Céline Claire
Diterbitkan oleh bayard presse jeunese
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histores
Oleh trianasari

Teeetttttt ! bunyi bel sekolah berdering. ” Saatnya pulang!” teriak Quentin sambil berlari menuju jendela. Tapi di depan sekolah tak ada ... siapapun. Apa yang terjadi?. Tiba – tiba telepon berdering, Cathy seorang guru di kelas itu mengangkat gagang telepon. Masih mengangkat gagang telepon, Cathy berkata, ” Mendekatlah kalian semua kepadaku!”. Setiap anak lalu mendekat. Cathy menjelaskan, ” Seekor srigala terlihat di perbatasan desa tapi jangan takut. Ibu, ayah dan nenek kalian selamat di rumah. Dan kini para pemburu sedang mencari srigala itu. Sambil menunggu srigala itu berhasil ditangkap, kita semua harus tinggal disini untuk sementara waktu!”. Julie bertanya dengan suara perlahan, ” Apakah itu berarti kita harus tidur disini?”. Thèo berkata dengan cemas, ” Apakah kita tidak akan makan malam ini?”
” Dengar, kita tahu apa yang kita lakukan! Ayo kita cari bantal kursi dan selimut dari boneka. Kita persiapkan juga makanan! ” kata Cathy. Seekor srigala di desa! Wow, sungguh mengerikan!. Malam telah tiba. ” Sekarang, ayo kita bersiap untuk makan malam!” Teriak cathy. Cathy lalu naik ke sebuah kursi, membuka jendela dan mengeluarkan alat pancing. ” Kau akan memancing ikan di pekarangan?” tanya Quentin keheranan. Tapi Cathy menunjukkan kepada anak itu, sebuaaahh.. lobak ! dan juga dua buah wortel. ” Oh, sayuran di kebun sekolah!” jelas Thèo.
Waktunya tidur dan pipis di kamar mandi. Quentin ingin jadi yang pertama pipis di kamar mandi. Dia berlari dengan cepat sambail beretriak, ” Aku adalah penunggang kuda yang akan menumpas semua monster kamar mandi !”. Tiba – tiba dia berhenti. Anak – anak yang lain mendekat. Disana, di lantai putih, ada sesuatu di dekat pintu. ” Whoaaa !!!!.... Srigaaalaaaa!!!!”. teriak anak – anak ketakutan. Tapi srigala itu tidak menyeramkan. Dengan tenag dan ramah dia berkata, ” Anak – anak, aku ini tidak jahat. Lihat aku! Aku ini sudah tua. Aku bahkan sudah tak bisa lagi mengunyah bahkan untuk sebuah wortel! ’. Tak seorang pun bergerak. Agar anak – anak percaya, srigala itu lalu menunjukkan rahang dan lidahnya yang merah muda. ” Tidak ada lagi gigi tersisa di mulut yang tua ini !”. Lalu dengan tenang Julie mendekat. Dia mengulurkan tangannya kepada srigala. Semua anak kelinci menahan nafas. Apakah srigala itu akan memakan Julie ? .
Ternyata tidak. Satu per satu, anak – anak kelinci mendekat. Srigala itu lalu mendapat belaian dan ciuman sayang dari anak – anak. Thèo menawarkan, ” Masih ada sedikit lobak. Apakah kau mau?”. Quentin berjanji, ” Aku akan menyerang pemburu – pemburu itu kalau mereka berani menyakitimu !” .  ” Lalu apa yang akan kita lakukan pada srigala ini ?” kata sebuah suara. Ternyata itu adalah suara ibu guru yang baru saja masuk ke kamar mandi. ” Maaf Tuan Srigala, tubuh anda benar – benar bau ! mandi akan membuat anda menjadi lebih baik” kata Cathy. Srigala tampaknya agak tidak setuju. ” Tapi aku sudah mandi di sungai musim panas kemarin!” Julie mengernyitkan hidungnya. ” Ya ! benar saja kalau kau bau sekali !. Tuan srigala terpaksa harus berendam di bak air. Anak – anak kelinci menggosok dan menggosok srigala. Cathy mengumumkan, ”Setelah itu, kita akan mengeringkannya dengan serbet bersih yang telah dipanaskan dengan alat pemanan dan Tuan srigala akan tampak seperti seekor anjing besar. Bukan lagi seekor srigala”.
Teet ! teeet ! teet !. Bunyi lonceng jam berdering. Cathy berkata, ” Lonceng berbunyi dua belas kai. Pasti ini sudah tengah malam! Ayo, cepat ke kamar tidur ! kita harus egera tidur !”. Tapi Thèo merajuk, ” Ibu selalu menceritakan sebuah cerita untukku sbeelum tidur”. Srigala lalu menawarkan diri, ” Apa kau tahu cerita tentang srigala kecil merah yang pergi membawakan sejumlah uang kepada neneknya ?” lalu srigala itupun mulai bercerita dengan suara lembut seperti nyanyian nina bobo. Anak – anak memejamkan mata, tak ada lagi suara gaduh.
Keesokan harinya, para petugas mengetuk pintu sekolah keras – keras. Pak Walikota mngumumkan, ” Aku kemari karena ingin mnyampaikan berita bagus. Tidak ada lagi bahaya. Srigala telah menghilang !”. tak lama kemudian para orang tua berbondong – bondong datang ke sekolah dan langsung menuju ruang kelas. ” Oh, kalian punya teman baru rupanya! ” kata para orang tua. ” Anjing ini dapat membantu kita menjaga sekolah terutama bila srigala itu kembali lagi ke desa kita !”
Apa ??? seekor srigala disuruh menjaga kelinci – kelinci ?? Mereka sama sekali tidak tahu !! ” Sssstttt ! itu rahasia ya..” kata ibu guru Cathy. 

Kucing yang cerdik


Judul asli                   “ La ruse des animaux
Ditulis oleh                : Chantal Marolles
Diterbitkan oleh bayard presse jeune
Diterjemahkan bebas dari seri les belles histories
Oleh trianasari
  
Tersebutlah seorang petani yang hidup dengan tenang dan bahagia di sebuah desa. Petani itu memiliki kawan setia yang selalu mengikutinya dari rumah ke kandang sapi dan dari kandang ayam ke kandang kuda. Suatu hati, yaitu hari minggu, petani dan anjing itu mengenakan topi pet dan pergi bersama – sama untuk berburu. Mereka berjalan berurutan. Sepanjang hari petani itu selalu memerintah si anjing. “ Disini !”, “ Kemarilah!”, Tidurlah anjing!”, “ Berdiri!”. Si anjing pun tak bias berbuat apa – apa. Dia hanya bisa menyerahkan dirinya untuk selalu mengikuti apa yang disuruh oleh petani. Mengikutinya kemanapun petani itu pergi. Suatu saat anjing itu merintih, “ Ah, andai saja aku punya kandang sendiri.  aku pasti bisa beristirahat dengan tenang dan menggerogoti tulang! pasti nikmat sekali.”
Selain anjing, petani itu juga memiliki hewan peliharaan lain, yaitu seekor kucing. Setiap hari dia mengeong, ” Disini petani! Tolong bukakan pintu”. Tapi suatu ketika kucing itupun juga mengeluh, ” Ah, kalau saja aku punya kandang sendiri tentu aku bisa membuka pintu ku sendiri tanpa harus mengeong. Aku bisa keluar masuk sesukaku dan bertemu dengan teman – temanku!”
Tetapi petani itu selalu sibuk dengan sapi, ayam, babi dan domba. Dia tidak punya waktu. Benar – benar tidak punya waktu untuk membuatkan kandang untuk si anjing dan si kucing. Ketika petani itu merasa capai dan bosan dia lebih suka membaca koran sore an duduk di kursi santainya.
Ada satu masalah lagi. Sejak beberapa hari lalu seekor musang selalu datang di malam hari, mengendap – endap dan mencuri seekor ayam. Petani itu memanggil anjingnya dengan bersiul dan berkata,              ” Dengarkan baik – baik, kalau kau bisa mencegah musang itu mencuri ayam – ayam ku, akan ku buatkan sebuah kandang yang paling bagus yang tak pernah kau lihat sebelumnya! ”. Anjing itu pun kegirangan, dia lalu berlari ke kanan dan ke kiri memberitahu semua hewan dna berteriak, ” Aku akan punya kandang sendiri. Aku akan punya rumah!”. dan ketika dia bertemu dengan kucing, anjing itu berkata, ” Kau ingin punya kandang dan aku juga. Kau tahu, aku akan memilikinya lebih dulu dibanding kamu, begitulah!”. ” Aku heran sekali!” jawab kucing. Si anjing lalu menimpali, ” Tentu saja tidak, Sama sekali tidak mengherankan! Sudah sepantasnya aku mendapatkan itu, sebuah kandang. Itu sebanding dengan jerih payah yang telah kuberikan untuk selalu mengikuti petani kemanapun dia pergi.” . ” Baiklah, kita lihat saja nanti!” jawab kucing singkat.
Malam telah tiba. Si anjing telah berdiri di dekat kandang ayam denagn telinga ditegakkan untuk mendengar bunyi – bunyian. Hidungnya dipertajam untuk membau apa saja. Dia berjalan dan bolak – balik berkali – kali mengitari kandang ayam. Kakinya menjadi sakit. Ketika si musang datang dan berhasil mencuri seekor ayam, anjing itu tak punya lagi kekuatan  untuk berlari. Tentu saja keesokan harinya, petani tidak senang tapi dengan sabar dia berkata, ” Awasilah dengan lebih baik malam ini! Kalau kau bisa mencegah musang itu mendekat, akan ku cat kandangmu dengan warna biru!. ” Anjing itu lalu berkata pada dirinya sendiri, ” Tidak mungkin aku bisa mengawasi dengan lebih baik. Akan kuminta bantuan dari para babi untuk membantuku.”
Anjing itu lalu meminta bantuan kepada babi untuk menjaga dan menggeram dengan keras untuk memberitahu anjing itu kalau si musang telah datang. Babi itu lalu bertanya, ” Lalu apa yang akan kau berikan untuk ku?” Si anjing menjawab, ” Aku akan memberimu sekeranjang penuh apel hijau”. Si babi menjawab, ” Baiklah, aku setuju.”
Malamnya, si babi berjaga di dekat kandang ayam tapi karena ayam – ayam itu berisik dan membicarakan hal yang membosankan maka babi itu pun akhirnya tertidur. Saat itu, si musang datang dan mendengar suara dengkuran si babi. Musang itu lalu mendatangi kandang ayam dan menyambar seekor ayam.
Keesokan harinya, petani tampak tidak senang tapi masih dengan sabar dia berkata kepada anjing, ” Kalau kau bisa mencegah si musang mendekati kandang ayam, akan kubuatkan juga jendela kecil di kandangmu!”. Anjing itu lalu bergumam, ” Babi itu sama sekali tak bisa membantu. Aku akan meminta bantuan domaba untuk berjaga menggantikanku dan memberitahuku dengan mengembik keras ketika si musang datang. Si domba bertanya, ” Lalu apa yang akan kau berikan padaku?” SI anjing menjawab, ” Akan kuberikan sepuluh roti panggang renyah”. Si domba berkata, ” Baiklah”.
Malam telah tiba, si domba telah berdiri di dekat kandang ayam. Ayam – ayam itu tertidur. Malam itu penuh dengan suara berisik dengkuran ayam dan si domba pun merasa sangat ketakutam. Dia pun lalu mendecakkan giginya satu sama lain. Si musang pun lalu tiba tapi sayangnya si domba tak menyadari karena suara berisik dari giginya. Si musang berhasil mencuri seekor ayam lagi dan si domba sama sekali tak menyadari.
Kali ini petani benar – benar sangat marah. Dia berkata, ” Baiklah, karena kau tidak bisa mengawasinya dengan baik, aku akan meminta kucing untuk berjaga. Dengar kucing, kalau kau berhasil mencegah si musang mendekat, akan ku buatkan kau sebuah kandang”. Si kucing lalu bertanya, ” kandang dengan cat warna biru?” ” Ya” jawab si petani. ” Dan dengan pintu dari tembaga kuning?” ” Ya, ya” kata petani. Mendengar hal itu, si anjing protes, ” Aku saja yang berbobot 50 kg tak berhasil apalagi kamu yang hanya 10 kg!”. Si anjing hanya menjawab, ” Kita lihat saja!”
Malam hari tiba, kucing mendatangi loteng dan berkata kepada tikus – tikus yang ketakutan, ” Aku tahu kalian tidak menyukaiku karena terkadang aku memakan kalian.  Sebenarnya, aku lebih memilih tikus ladang yang rasanya lebih enak daripada kalian. Aku berjanji tidak akan lagi memakan kalian kalau kalian bisa mencegah si musang mencuri ayam – ayam lagi!”. tikus – tikus lalu berkata, ” Kurasa itu ide bagus. Kalau kucing yang mengerikan ini tidak datang lagi,hidup kita akan menjadi tenang!”. Tikus itu lalu menjawab, ” Musang itu sangat besar dan kami sangt kecil. Bagaimana mungkin kami bisa mencegahnya mencuri?”. Kucing kemuidian berkata, ” Carilah jalan keluar! Aku punya janji bertemu dengan teman – teman, sampai nanti!”. kucing itu pun pergi dan seekor tikus kecil berteriak kepada teman – temannya, ” Aku punya ide! Mendekatlah, akan ku bisikkan di telingamu...”
Ketika malam tiba, tikus – tikus kecil itu telah berjaga di sekitar kandang ayam. Tikus pertama menempatkan kepalanya ke arah berkilau dan membuatnya menyerupai mata besar yang berkilau. Sementara tikus yang lain berpegangan erat di belakangnya, menyerupai sebuah ekor. Malam itu nampaknya mendung dan tak terlihat seorang pun melintas. Si musang mulai mendekati kandang ayam tapi sebuah suara mendesis mengerikan terdenagr mendekat, ” Sssss ! Sssss! Aku adalah ular!”. Si musang terkejut takut dan melompat jauh ke belakang, ” Seekor ular! Oh, Tuan Ula, maafkan saya. Saya tidak akan lagi mengganggu Tuan!” . Tikus – tikus itu mendesis lagi, ” Sssss! Pergi! Dan jangan datang lagi kesini!”. Si musang bersumpah, ” Aku berjanji, aku berjanji!”. dan musang itu pun lalu melarikan diri ke dalam hutan.
Keesokan harinya, si petani merasa sangat sanagt gembira. Dia memberi selamat kepada si kucing dan segera petani itu membuatkan sebuah kandang untuknya yang berwarna biru dengan pegangan pintu terbuat dari tembaga kuning. Ketika si anjing melihat hal itu, dia meneteskan air mata. Kemudian si kucing mengeong dengan lembut kepada petani, ” Petani, karena kau masih disini dengan martil dan gergaji. Buatkanlah juga kandang untuk si anjing! Dia telah berkorban banyak untukmu. Dia pantas mendapatkan itu. ”
Dan malam itu di peternakan, semua hewan sangat senang. Ayam – ayam tidur di kandangnya, petani bersanatai di kursi dantainya, tikus –tikus di loteng, si anjing di kandangnya dan si kucing akhirnya dapat pergi kapan pun dia mau, pergi menemui teman – temannya yang sangat penting.